Wilayah II & III (Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara dan Papua)
Dari Fondasi Ilmu ke Puncak Pengabdian
Ir. H. Fadly Ibrahim, S.T., M.T., IPM., ACPE bukan sekadar nama dalam deretan panjang insan profesional Indonesia—ia adalah narasi hidup tentang tekad yang menjelma menjadi karya, tentang ilmu yang bertransformasi menjadi pengabdian, dan tentang kepemimpinan yang menjulang melampaui batas-batas konvensional. Lahir di sebuah kampung bernama Pompanua di Bone, pada 28 November 1978, Fadly tumbuh dari akar kesederhanaan yang kuat, namun dengan visi yang sejak awal seolah menatap cakrawala yang jauh lebih luas dari sekadar garis horizon kehidupan biasa.
Perjalanan akademiknya bukan sekadar lintasan pendidikan, melainkan fondasi kokoh yang membentuk arsitektur pikirannya. Dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, ia menempa diri sebagai Sarjana Teknik Sipil pada tahun 2002—sebuah titik awal dari perjalanan intelektual yang terus menanjak. Tak berhenti di sana, ia melanjutkan langkahnya di Universitas Hasanuddin (UNHAS) hingga meraih gelar Magister Teknik Sipil pada 2009, memperdalam perspektifnya terhadap pembangunan dan rekayasa infrastruktur. Bahkan, melalui Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI FTI-UMI) pada tahun 2017, ia mengukuhkan dirinya sebagai seorang insinyur profesional yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktik dengan presisi tinggi.
Pendidikan di Lemhannas RI tahun 2022 serta pelatihan kepemimpinan Wikasatrian tahun 2024 semakin mengasahnya menjadi figur strategis yang tidak hanya berpikir teknokratis, tetapi juga visioner dalam membaca arah masa depan bangsa.
Dalam dunia kerja, langkah Fadly bukan sekadar progres—ia adalah lompatan-lompatan besar yang meninggalkan jejak nyata. Mengawali karir sebagai surveyor, tenaga ahli, manager operasi, hingga dipercayakan sebagai Kepala Kantor Wilayah PT. Yodya Karya (Persero) Wilayah II pada periode 2020–2025, dengan wilayah kerja Sulwesi, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara. Ia tampil sebagai nahkoda yang mengarahkan kapal besar pembangunan dengan ketegasan dan ketelitian. Di bawah kepemimpinannya, setiap proyek bukan hanya soal konstruksi fisik, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, memperkuat konektivitas, dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat luas. Diantara legacynya adalah underpass mandai, elevated maros-watampone, dll.
Disamping tugas-tugas prpfesional tersebut, Fadly juga dipercayakan sebagai Staf Ahli Dinas Binamarga Provinsi Sulsel pada periode 2013-2018. Ia bersama beberapa guru besar dari UNHAS dan UMI membantu pemerintah dalam memberikan masukan terkait pembangunan infratsruktur transportasi di provinsi Sulawesi Selatan. Peran ini menjadi bukti bahwa dedikasinya terhadap pembangunan daerah telah teruji dalam berbagai medan pengabdian.
Pada tahun 2025, ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai General Manager PT. Agrinas Pangan Nusantara (Persero) dengan cakupan wilayah kerja Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Posisi ini menempatkannya pada peran strategis dalam mendukung penguatan ketahanan pangan nasional di kawasan timur Indonesia. Pada tahap ini, kontribusinya tidak hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyentuh aspek penguatan sistem yang mendukung kemandirian bangsa.
Bagi Fadly, pembangunan tidak semata-mata berkaitan dengan jalan, jembatan, atau proyek fisik lainnya, melainkan juga tentang upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, ia memandang pembangunan sebagai sarana untuk memperkuat konektivitas, meningkatkan kesejahteraan, dan membuka akses kemajuan hingga ke wilayah yang lebih terpencil. Selama prinsip pengabdian tetap menjadi pijakan, Fadly Ibrahim akan terus menjadi bagian dari upaya kolektif dalam mendukung kemajuan bangsa dan memeperluas cakupan kebermanfaatan.
Jejak Emas di Dunia Teknik Sipil: Dedikasi Tanpa Batas
Dalam lanskap dunia teknik sipil Indonesia yang kompetitif, nama Ir. Fadly Ibrahim dikenal tidak hanya sebagai praktisi konsultan konstruksi, tetapi juga sebagai penulis yang aktif berkontribusi dalam pengembangan pemikiran di bidangnya. Penghargaan nasional yang diraihnya tidak sekadar menjadi simbol capaian, melainkan mencerminkan konsistensi, ketekunan, serta kemampuan analisis dalam merespons berbagai tantangan di dunia teknik.
Di balik itu, Fadly juga dikenal memiliki minat yang kuat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karya-karya ilmiahnya telah dipresentasikan di berbagai forum nasional—mulai dari UNS, ITENAS, UNHAS, ITS, ITB, hingga forum-forum seperti Konferensi Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), Puslitbang PU, Puslitbang Permukiman, dan Bappenas. Tulisan-tulisannya berfokus pada upaya memberikan solusi yang aplikatif dan relevan terhadap persoalan pembangunan, khususnya di sektor infrastruktur dan Pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Selain itu, keterlibatannya dalam forum-forum tersebut juga menunjukkan perannya dalam membangun jejaring profesional serta mendorong pertukaran gagasan antarpraktisi dan akademisi.
Diantara forum-forum ilmiah tersebut, pada tahun 2015 ia menorehkan capaian gemilang sebagai Pemakalah Terbaik I dalam Seminar Nasional Teknik Sipil ITS Surabaya—sebuah panggung akademik prestisius yang mempertemukan para akademisi dan praktisi. Dua tahun sebelumnya, pada 2013, ia telah lebih dahulu meraih Pemakalah Terbaik I Bidang Infrastruktur dalam Konferensi Kebijakan Pembangunan Nasional (Bappenas). Prestasi ini bukan sekadar pengakuan, melainkan legitimasi bahwa pemikirannya memiliki daya dorong strategis dalam merumuskan arah pembangunan Indonesia.
Namun, kontribusi Fadly tidak berhenti pada ruang-ruang seminar yang audience-nya adalah para pakar dan sarjana. Ia adalah penyebar ilmu—seorang mentor yang menjadikan pengalaman sebagai pelita bagi generasi berikutnya. Ia aktif memberikan kuliah umum dan pelatihan kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi, seperti UNHAS, UNM, UNTAD, UNG, POLITEKNIK UP, POLITANI, UMI, UNIFA, UNIBOS, UNISMUH, dan lainnya. Pengalamannya di dunia konstruksi menjadi referensi penting bagi mahasiswa yang akan terjun ke industri tersebut, sekaligus menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan.
Tidak hanya berbagi pengetahuan di lingkungan akademik, ia juga berperan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola potensi dan menghadapi berbagai permasalahan lokal. Ia kerap menjadi narasumber dan pelatih dalam program penguatan fasilitator pemberdayaan masyarakat, membimbing lahirnya agen-agen perubahan yang mampu menggerakkan komunitas menuju kemandirian. Selama delapan tahun, ia menjangkau desa-desa terpencil, mendampingi masyarakat dalam merancang solusi berbasis potensi lokal, memperkuat kelembagaan desa, serta menumbuhkan kepercayaan diri warga untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan yang berkelanjutan.
Dengan berbagai capaian tersebut, Ir. Fadly Ibrahim dapat dilihat sebagai sosok teknokrat, yang terkadang “lompat pagar” mengambil peran akademisi, dan pendidik. Ia tidak hanya terlibat dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan pola pikir dan pemahaman generasi muda di bidang teknik sipil. Melalui ruang berbagi pengalaman, dan keterlibatannya dalam berbagai forum, ia ikut mendorong lahirnya sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi tantangan pembangunan.
Bagi dirinya, ilmu tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi menjadi dasar dalam merumuskan solusi yang relevan dan berkelanjutan. Pendekatan ini tercermin dari konsistensinya dalam menghubungkan teori dengan praktik, serta upayanya dalam mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Jejak Intelektual, Dakwah, Tinta Menjadi Cahaya
Di tengah dinamika dunia teknik dan pembangunan yang identik dengan angka, perhitungan, dan struktur fisik, Ir. Fadly Ibrahim hadir sebagai sosok yang menembus batas—menghubungkan rasionalitas rekayasa dengan kedalaman spiritualitas. Perannya pun tidak terbatas pada ranah profesional. Fadly juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan melalui keterlibatannya sebagai Sekretaris Yayasan Haji Ahmad Surur. Yayasan ini membina lembaga tahfiz yang memberikan pendidikan Al-Qur’an secara gratis kepada para santri, serta lembaga foundrising yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Melalui peran ini, ia turut berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia, baik dari sisi keilmuan maupun pembinaan karakter.
Selain memberikan pencerahan melalui ruang-ruang kelas yang aksesnya terbatas, Fadly juga menyampaikan pandangannya melalui artikel dan opini yang tajam, reflektif, serta sarat dengan kesadaran sosial. Pada tahun 2025, melalui tulisan “Dari Desa Kemandirian Indonesia Tumbuh” di Makassar News, ia menegaskan bahwa kekuatan bangsa sesungguhnya berakar dari desa—dari kesederhanaan yang menyimpan potensi besar. Di tahun yang sama, tulisannya “Pesantren Runtuh: Iman yang Kuat, Konstruksi yang Rapuh” di Sindo Makassar menjadi kritik sekaligus renungan mendalam—sebuah pengingat bahwa pembangunan fisik tanpa fondasi spiritual yang kuat adalah bangunan yang rapuh.
Jauh sebelumnya, ia telah menulis tentang “Relasi Pompanua dan Hadramaut” (2022), membuka cakrawala tentang hubungan historis dan spiritual lintas wilayah. Bahkan sejak 2018, melalui tulisan tentang zakat, sanitasi, dan air bersih di Tribun Timur, hingga refleksi sosial tentang mudik sebagai modal sosial di Makassar News, ia telah menunjukkan bahwa pikirannya tidak pernah jauh dari masyarakat.
Tulisan “Infrastruktur Jalan sebagai Pilar Pembangunan Sulsel” di Harian Fajar tahun 2016 menjadi bukti bahwa ia mampu menjembatani dunia teknis dengan bahasa publik yang mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman substansi.
Dalam dunia literasi, Fadly tidak hanya menulis artikel teknik dan isu-isu sosial ekonomi, tetapi juga menaruh perhatian pada penulisan sejarah dan penguatan ingatan kolektif. Ia telah menulis setidaknya tiga buku yang mengangkat jejak ulama, menghadirkan narasi yang menghubungkan masa lalu dengan konteks masa kini. Melalui karyanya, sosok-sosok ulama tidak hanya dikenalkan sebagai figur historis, tetapi juga ditampilkan dengan nilai keteladanan yang relevan bagi pembaca masa sekarang. Ia menyajikan dinamika spiritual serta jaringan keilmuan yang turut membentuk perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
Kontribusinya menjadi penting dalam mengisi keterbatasan literatur mengenai ulama Sulawesi Selatan, khususnya pada periode antara Syekh Yusuf al-Makassari (abad ke-17) hingga KH. Muhammad As’ad di Sengkang (awal abad ke-20).
Rentang waktu yang cukup panjang ini sebelumnya belum banyak terdokumentasikan secara memadai. Meskipun dalam ingatan kolektif masyarakat terdapat sejumlah tokoh yang dikenal pernah berdakwah pada periode tersebut, kalangan akademisi masih menghadapi kesulitan untuk mengkajinya secara lebih mendalam karena terbatasnya bukti pendukung yang valid dan terdokumentasi dengan baik.
Melalui ketekunannya menelusuri dan mengumpulkan manuskrip keagamaan, Fadly Ibrahim berupaya menghadirkan kembali fragmen sejarah yang tersebar. Upaya ini juga didukung oleh kerja sama dengan berbagai lembaga, baik dalam negeri seperti UIN, BRIN, UNHAS, Ngariksa, Mahesty, dan Yayasan Arsari, maupun lembaga luar negeri seperti Dreamsea, Universitas Leiden, British Library, Universitas Daud Fathani Thailand, dan As-Sofa Malaysia. Kolaborasi tersebut memperkuat validitas data sekaligus memperluas akses terhadap sumber-sumber primer yang sebelumnya sulit dijangkau.
Di luar dunia literasi, Fadly Ibrahim juga dikenal sebagai figur organisatoris yang aktif dalam berbagai lini pengabdian. Sejak masa mahasiswa, ia terlibat dalam organisasi intra dan ekstra kampus, serta dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis. Pengalaman ini membentuk kemampuan kepemimpinan dan jejaring yang terus ia kembangkan hingga kini.
Dalam dunia profesional, keterlibatannya tercermin melalui berbagai peran, antara lain sebagai Wakil Sekretaris Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), Wakil Sekretaris Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua Departemen Rekayasa Infrastruktur PII Kota Makassar, Wakil Sekretaris Ikatan Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO) DPP Sulawesi Selatan, pengurus Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI), anggota Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI), serta Sekretaris Dewan Pengarah USBU Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Sulawesi Selatan, dan sejumlah peran lainnya.
Keaktifannya dalam organisasi yang berafiliasi dengan aktivitas profesional menunjukkan bahwa Fadly Ibrahim senantiasa merawat keterhubungannya dengan jaringan yang relevan dengan aktifitasnya sebagai insinyur. Selain itu, partisipasinya juga berkontribusi dalam memperkuat standar profesional, mendorong kolaborasi antarpraktisi, serta mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia di sektor konstruksi dan infrastruktur.
Di luar organisasi profesi, Fadly Ibrahim juga memperluas peran dan kontribusinya melalui keterlibatan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Di antaranya mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Majelis Ikhwan Tarekat al-Muhammadiyah Indonesia, Wakil Bendahara Iradah Wustho JATMAN Provinsi Sulawesi Selatan, Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Selatan, serta Wakil Bendahara Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Sulawesi Selatan.
Keterlibatan ini menunjukkan komitmennya dalam mendukung kegiatan sosial-keagamaan, sekaligus memperkuat peran komunitas dalam pembinaan umat. Melalui aktivitas tersebut, ia turut berkontribusi dalam membangun jejaring kolaborasi, memperkuat kelembagaan, serta mendorong program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan sosial.
Jika semua ini dirangkai, maka akan tampak sebuah gambaran besar: Fadly Ibrahim bukan hanya membangun jalan dan infrastruktur fisik, tetapi juga membangun peradaban melalui kata, gagasan, dan pengabdian. Ia menulis untuk menghidupkan sejarah, berbicara untuk membangkitkan kesadaran, dan berorganisasi untuk memperkuat kebersamaan. Dalam dirinya, pena adalah alat perjuangan, organisasi adalah medan pengabdian, dan ilmu adalah cahaya yang terus menyinari perjalanan bangsa.
BIODATA
Data Pribadi
• Nama : Ir. H. Fadly Ibrahim, S.T., M.T., IPM., ACPE
• Tempat, Tanggal Lahir : Pompanua, Bone – 28 November 1978
• Alamat : Perumahan Grand Aroepala Blok C No. 16, Kelurahan Tamangapa, Makassar
• Email : fadly_surur@yahoo.co.id
Pengalaman Pekerjaan
1. Kepala Kantor Wilayah PT. Yodya Karya (Persero) Wilayah II (2020–2025)
2. General Manager PT. Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Wilayah II (2025–sekarang)
3. Staf Ahli Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan (2013–2018)
Pendidikan Formal
• 2002 : Sarjana Teknik Sipil – Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar
• 2009 : Magister Teknik Sipil – Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar
• 2017 : Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI FTI-UMI)
Pendidikan Non-Formal
• 2022 : Pendidikan Lemhannas RI
• 2024 : Pelatihan Pusat Kepemimpinan Wikasatrian
Penghargaan Nasional
• 2015 : Pemakalah Terbaik I – Seminar Nasional Teknik Sipil ITS Surabaya
• 2013 : Pemakalah Terbaik I Bidang Infrastruktur – Konferensi Kebijakan Pembangunan Nasional (Bappenas–USAID)
Publikasi Ilmiah & Seminar
Berbagai karya ilmiah dan penelitian telah dipresentasikan dalam forum nasional, antara lain di ITB, ITS, UNHAS, ITENAS, UNS, Konreg HPJI, Bappenas, Puslitbang PU, dll. Topik utama meliputi:
• Perencanaan trase jalan dan Evaluasi perkerasan jalan
• Konektivitas infrastruktur wilayah
• Analisis kegagalan lereng dan desain perkerasan
• Pengembangan kawasan berbasis prinsip pembangunan berkelanjutan
(Beberapa karya dipublikasikan dalam proceeding nasional dan internasional sejak 2010–2015).
Buku Karya
• 2018 : Tapak Tilas KH. Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani
• 2024 : Perkembangan Tarekat al-Muhammadiyah di Sulawesi Selatan
• 2024 : Serpihan Jejak Ulama Pompanua
Artikel & Opini
• 2025 : Dari Desa Kemandirian Indonesia Tumbuh – Makassar News
• 2025 : Pesantren Runtuh: Iman yang Kuat, Konstruksi yang Rapuh – Sindo Makassar
• 2022 : Relasi Pompanua dan Hadramaut – Nahdliyyin.id
• 2018 : Zakat untuk Sanitasi dan Air Bersih – Tribun Timur
• 2018 : Mudik: Modal Sosial Membangun Kampung – Makassar News
• 2016 : Infrastruktur Jalan sebagai Pilar Pembangunan Sulsel – Fajar
Organisasi
• 2019–2030 : JATMAN Sulsel (Aminu Shunduq Awwal Iradah Wustho)
• 2024–2029 : Wakil Sekretaris PW Nahdlatul Ulama Sulsel
• 2024–2029 : Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sulsel
• 2022–2027 : Wakil Sekretaris HPJI Sulsel
• 2022–2027 : Wakil Sekretaris PII Sulsel
• 2020–2025 : Ketua Departemen Rekayasa Infrastruktur PII Kota Makassar
• 2019–2024 : Wakil Sekretaris INTAKINDO Sulsel
• 2018–2021 : Pengurus IABI
• 2016–2021 : Anggota HTTI Sulsel
• 2023–sekarang : Anggota JAPNAS
• 2016–2020 : Sekretaris Dewan Pengarah USBU LPJK Sulsel
• 2003–sekarang : Anggota KAHMI Sulsel
• 2022-sekarang : Sekretaris Yayasan Haji Ahmad Surur




