Oleh :Armin Mustamin Toputiri
Dalam bahasa Toraja, kata “tau” secara etimologis menunjuk pada sosok orang atau manusia. Adapun kata “toto” dalam frasa nama “Tau-Toto” secara kontekstual bermakna takdir, kuat, dan berdedikasi.
Sederhananya, demikian kira-kira makna frasa kata majemuk dari nama Tautoto—pamong dan birokrat senior yang sore kemarin dikebumikan di Pemakaman Darussalam Valley, Gowa.
Tautoto Tanaranggina Sarungallo (lahir 11 Agustus 1964, wafat 24 April 2026) dikenal sebagai sosok birokrat dengan dedikasi tinggi. Berbagai posisi dan kedudukan telah ia sandang. Di Pemprov Sulsel, ia tidak hanya menduduki kursi Pj. Sekprov Sulsel, tetapi juga pernah menjadi Pj. Bupati Toraja Utara dan Pj. Bupati Soppeng.
Mula saya bersentuhan dengan Toto—demikian ia akrab disapa—pada era 1990-an di sejumlah organisasi. Sejak itu, saya tahu ia adalah “orang dekat”, loyalis Syahrul Yasin Limpo (SYL), kala itu Bupati Gowa.
Seiring waktu, persentuhan kami semakin dekat, terutama saat saya terpilih menduduki kursi DPRD Sulsel. Pada saat yang sama, SYL memulai debutnya sebagai Gubernur Sulsel, setelah sebelumnya menjabat Wakil Gubernur.
Di DPRD Sulsel, saya bertugas di Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat. Sementara Toto menjabat sebagai Kepala Kesbangpol. Beberapa periode, ia mengikutkan saya dalam jajaran kepengurusan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dengan SK yang disahkan Gubernur serta disertai honor.
Lebih dari itu, Toto memberi ruang kepada saya untuk bermitra dalam program “Sosialisasi Pendidikan Politik” kepada ratusan konstituen saya di daerah pemilihan.
Lewat program itu, secara langsung maupun tidak, Toto berkontribusi besar membuka jalan keterpilihan saya untuk periode kedua di DPRD Sulsel.
Pada periode kedua di DPRD Sulsel, saya mendapat tugas sebagai Sekretaris Komisi C Bidang Keuangan. Pada saat yang sama, Toto menjabat Kepala Dispenda (kini Bapenda).
Hubungan kami semakin dekat. Selain mitra kerja, juga menjadi teman baik. Boleh dikata, hubungan kami seru dan berbobot.
Tidak hanya kami, para wakil rakyat di Komisi C meminta Dispenda menggenjot pendapatan. Justru sebaliknya, Toto balik menantang kami untuk ikut berburu pendapatan daerah.
Sebuah anomali—kisah yang tak lazim terjadi.
Kami pun menyisir rimbun hutan di tepi Danau Sorowako dan menemukan mesin pompa lain yang digunakan PT Vale. Hasilnya, mendongkrak tambahan miliaran rupiah pendapatan daerah dari Pajak Air Permukaan (PAP).
Kami juga meringsek ke kantor GAIKINDO di Gondangdia, Jakarta, dan memperoleh data jumlah kendaraan roda empat yang tiap tahun masuk ke Sulsel. Sejak itu, Dispenda tak lagi dikibuli distributor soal jumlah kendaraan yang dipasarkan di daerah ini.
Kami turut menelusuri volume penggunaan BBM industri yang selama ini tidak transparan, bahkan cenderung ditutupi. Tak terkecuali berburu aset milik Pemprov untuk menambah pendapatan daerah.
Dan yang paling spektakuler, saat saya menantang Toto untuk membeli mesin digital pembuatan pelat nomor kendaraan bermotor.
Toto mengajukan anggaran Rp50 juta per unit untuk 24 unit di seluruh kantor Samsat kabupaten/kota di Sulsel—total Rp1,2 miliar. Dalam rapat Banggar, saya bertarung hingga anggaran disetujui.
Dalih saya sederhana: nilai belanja mesin dibandingkan potensi pendapatan sangat signifikan.
Dan terbukti. Sejak itu, pelayanan pembuatan pelat nomor kendaraan bermotor beralih dari sistem tumbuk ke digital. Pelayanan menjadi lebih cepat, dan pendapatan daerah meningkat pesat.
Itulah salah satu legacy Dispenda di era Toto yang patut dikenang.
Kala Toto menjabat Pj. Bupati Toraja Utara, di sebuah kedai di Rantepao kami ngopi bertiga bersama Bu Isma Pirade (Ketua DPRD Torut).
Tiba-tiba Toto bercanda, “mengadu” agar Isma ditegur. Katanya, mimbar di kantor DPRD terlalu tinggi, sehingga saat berpidato wajahnya tertutup mimbar.
Toto mungkin bertubuh pendek, tetapi visi dan obsesinya tinggi. Gerakannya lincah. Ia senang bercanda, namun saat bekerja sangat telaten. Perilakunya unik, tetapi penuh persahabatan.
Wajar jika ia seolah tak memiliki lawan—justru memiliki begitu banyak kawan.
“Coba tanya soal ini pada saya…” pesan Toto lewat WhatsApp kepada saya. Ia sering mengirim pesan seperti itu saat kami rapat di Komisi C DPRD Sulsel.
Tak ada anggota lain yang tahu, hanya saya dan Toto. Setelah saya melontarkan pertanyaan sesuai pesannya, Toto langsung menyambar mikrofon dan memaparkan program unggulan dengan argumen meyakinkan.
“Bos, ini strategi. Situ melempar bola, saya yang smash.”
Saya menimpali, “Salsa putriku yang melempar bola, Ato putramu yang smash.”
Toto tertawa. Salsa dan Ato memang sahabat, sama-sama pemain softball di SD Athirah kala itu.
“Tapi…” sela saya, “Salsa mengeluh, Ato itu posturnya pendek, jadi umpannya harus ke bawah.”
Toto pun tertawa lebar.
Sesuai frasa nama yang disematkan orang tuanya—Tau-Toto—kuat, loyal, dan berdedikasi. Ia loyal pada pimpinan, kuat dalam prinsip, dan berdedikasi pada tugas yang diemban.
Perpaduan itu berpijak pada ketulusan dan keikhlasan. Terbukti, ia memiliki banyak kawan dan menorehkan banyak prestasi.
Saat SYL dirundung kasus di KPK, tidak sedikit yang menyesali: andai Toto mendampingi saat menjabat Menteri Pertanian, mungkin kisah pahit itu tak akan terjadi.
Namun takdir telah berjalan. Toto kini telah berada di alam sana. Saya meyakini, SYL di Sukamiskin tiada henti menitipkan doa untuk kepergian adiknya—sosok berdedikasi, loyalis sejati.
Masih banyak cerita tentang Toto yang tersimpan di benak saya. Termasuk saat ia menyelamatkan saya ketika dikepung massa di sebuah hotel pada Pilkada Palopo 2013. Namun ruang yang terbatas membuat tak semua kisah bisa dituliskan di sini.
Yang pasti, saya mengakui memiliki banyak utang budi padanya.
Selamat jalan, sosok baik hati.
Ila ruhi Tautoto Tanaranggina Sarungallo, Al-Fatihah.
Makassar, 27 Mei 2026



