MEMBACA KESEHATAN DARI SETETES AIR LIUR
Di tengah kompleksitas dunia medis yang sering kali bergantung pada alat-alat canggih dan prosedur invasif, Prof. Dr. drg. Harlina, M.Kes., hadir sebagai penembus batas—seorang ilmuwan yang berani membaca kehidupan dari sesuatu yang selama ini dianggap sederhana: setetes air liur. Di tangannya, saliva bukan lagi sekadar cairan biologis, melainkan bahasa rahasia tubuh, pesan halus yang menyimpan tanda-tanda kesehatan dan penyakit.
Sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, ia tidak hanya berdiri sebagai pengajar, tetapi sebagai penjelajah ilmu yang terus menggali kemungkinan-kemungkinan baru. Ia melihat apa yang luput dari pandangan banyak orang—bahwa di dalam air liur, tersembunyi jejak-jejak biomarker yang mampu mengungkap kondisi tubuh secara menyeluruh. Protein, enzim, hormon—semuanya menjadi aksara biologis yang ia susun menjadi kalimat diagnosis.
Dari pemahaman inilah lahir inovasi besar: pengembangan alat skrining kesehatan berbasis saliva. Sebuah terobosan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga humanis. Ia menghadirkan metode deteksi dini yang non-invasif, tanpa rasa sakit, tanpa ketakutan—membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenali kondisi kesehatannya sejak dini. Dalam dunia yang sering kali membuat pasien cemas dengan jarum dan prosedur rumit, inovasinya hadir sebagai angin segar—sederhana, cepat, namun sarat makna.
Namun, bagi Prof. Harlina, inovasi bukan sekadar pencapaian teknologi. Ia adalah bentuk keberpihakan. Dengan alat berbasis saliva, ia membawa harapan bahwa layanan kesehatan dapat menjadi lebih inklusif—dapat diakses oleh lebih banyak orang, di berbagai lapisan masyarakat, bahkan di daerah yang minim fasilitas.
Tidak berhenti di sana, ia juga menapaki jalur penelitian yang mengakar pada kekayaan alam. Ia menyelami potensi tanaman herbal lokal, menjadikannya bagian dari solusi kesehatan modern. Daun sirih, ekstrak tumbuhan, dan berbagai bahan alami lainnya ia angkat dari kearifan lokal menuju panggung ilmiah. Di tangannya, alam tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga masa depan—sumber terapi dan pencegahan dalam kedokteran gigi yang berkelanjutan.
Sebagai seorang inventor, ia tidak hanya berhenti pada ide. Ia melangkah hingga pada pengakuan formal melalui paten—menjadikan inovasinya bukan sekadar konsep, tetapi kontribusi nyata bagi kemandirian alat kesehatan nasional. Di sinilah ia berdiri, sebagai bagian dari generasi ilmuwan yang tidak hanya berpikir global, tetapi juga bertindak untuk kedaulatan bangsa.
Publikasi-publikasinya dalam bidang biomonitoring saliva menjadi jejak intelektual yang terus hidup—dibaca, dikaji, dan dikembangkan oleh komunitas ilmiah. Ia tidak hanya menciptakan pengetahuan, tetapi juga membuka jalan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
Prof. Dr. Harlina adalah bukti bahwa kejeniusan tidak selalu hadir dalam bentuk yang rumit. Kadang, ia hadir dalam kesederhanaan yang dipahami secara mendalam. Dalam setetes air liur, ia menemukan semesta. Dalam sesuatu yang dianggap biasa, ia melihat luar biasa.
Ia adalah penafsir tubuh tanpa suara, penerjemah tanda-tanda biologis yang tersembunyi, dan pelopor yang membawa ilmu menuju bentuk yang lebih manusiawi. Dalam dirinya, ilmu tidak hanya berkembang—ia berdenyut, bergerak, dan memberi kehidupan.
Dan selama inovasinya terus mengalir, selama semangatnya tak pernah padam, maka setiap tetes saliva yang dulu dianggap remeh, akan terus bercerita—tentang kesehatan, tentang harapan, dan tentang seorang ilmuwan yang mengubah cara kita memahami tubuh manusia.
PENYULUT CAHAYA KESEHATAN RONGGA MULUT
Di antara lorong-lorong ilmu pengetahuan yang panjang dan tak bertepi, di tengah riuh rendah dinamika dunia akademik yang terus bergerak, berdirilah satu sosok yang tak sekadar mengajar—melainkan menghidupkan ilmu itu sendiri. Prof. Dr. Harlina, drg., M.Kes., adalah representasi utuh dari dedikasi yang tak pernah surut, dari ketekunan yang menjelma karya, dan dari pengabdian yang melampaui batas ruang dan waktu.
Lahir di Tanete pada 18 Januari 1963, ia tumbuh dari rahim kesederhanaan yang justru melahirkan keteguhan. Dari titik awal itulah, langkah-langkahnya mulai menapaki jalan panjang menuju dunia ilmu pengetahuan—jalan yang tidak selalu mudah, namun selalu bermakna. Ia bukan sekadar berjalan di atasnya, tetapi mengukir jejak yang kelak menjadi rujukan bagi banyak generasi.
Perjalanan akademiknya adalah fondasi kokoh yang membentuk kepribadiannya sebagai ilmuwan. Di Universitas Hasanuddin, ia menapaki langkah awal sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi—sebuah pilihan yang bukan hanya profesi, tetapi panggilan jiwa. Di sana, ia mulai memahami bahwa kesehatan rongga mulut bukan sekadar aspek medis, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup manusia.
Langkahnya kemudian berlanjut ke Universitas Airlangga, tempat ia memperdalam keilmuan dalam bidang Ilmu Penyakit Mulut. Di titik ini, ia tidak hanya belajar mengenali penyakit, tetapi juga memahami kompleksitas interaksi antara tubuh, lingkungan, dan gaya hidup manusia. Hingga akhirnya, melalui jenjang doktoral di universitas yang sama, ia mengukuhkan dirinya sebagai seorang akademisi yang matang—menguasai teori, tajam dalam analisis, dan luas dalam perspektif.
Namun, gelar dan pendidikan hanyalah awal. Sejatinya, Prof. Harlina menjelma besar melalui pengabdiannya sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Di ruang-ruang kuliah, ia bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menanamkan nilai. Ia membentuk bukan hanya dokter gigi, tetapi manusia yang memiliki empati, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Di balik meja kerjanya, di antara buku-buku dan jurnal ilmiah, ia terus menulis—bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dalam lima tahun terakhir, karya-karyanya menjadi bukti nyata bahwa ia adalah ilmuwan yang tidak pernah berhenti berpikir.
Penelitiannya tentang peranan ekstrak daun mangrove (Avicennia marina) terhadap penyembuhan angular cheilitis membuka cakrawala baru dalam pemanfaatan sumber daya alam lokal sebagai solusi kesehatan. Ia tidak hanya melihat mangrove sebagai tanaman pesisir, tetapi sebagai potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu kedokteran gigi.
Dalam penelitian lain, ia mengkaji tingkat kesadaran masyarakat lansia terhadap oral potentially malignant disorder di Belawa, Wajo—sebuah studi yang bukan hanya akademis, tetapi juga sarat nilai kemanusiaan. Ia turun ke masyarakat, mendengar, memahami, dan kemudian menerjemahkan realitas itu menjadi ilmu yang bermanfaat.
Tak berhenti di sana, melalui penelitian tentang efek ekstrak bunga mawar terhadap penyembuhan angular cheilitis, ia kembali menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari sesuatu yang jauh dan kompleks. Kadang, solusi terbaik justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita—asal ada kepekaan untuk melihat dan keberanian untuk meneliti.
Di ruang praktik RSGM Unhas, ia menjembatani dunia teori dan realitas. Ia hadir bukan hanya sebagai dokter, tetapi sebagai pelayan kemanusiaan—menyentuh langsung kehidupan pasien, menghadirkan harapan, dan memulihkan kepercayaan diri melalui senyum yang kembali.
Prof. Harlina adalah gambaran utuh seorang akademisi sejati: berpikir tajam, bekerja tekun, dan mengabdi tanpa pamrih. Ia tidak hanya hidup dalam dunia ilmu, tetapi menjadikan ilmu itu hidup dalam dirinya.
Dalam dirinya, kita melihat bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi perjalanan panjang membentuk karakter. Bahwa penelitian bukan sekadar publikasi, tetapi upaya mencari solusi. Dan bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban, tetapi panggilan hati.
Ia adalah cahaya yang terus menyala di dunia kedokteran gigi—menerangi jalan bagi mahasiswa, menghangatkan harapan bagi masyarakat, dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang percaya bahwa ilmu, jika dijalani dengan ketulusan, mampu mengubah dunia.
Dan selama dedikasi itu terus mengalir, maka nama Prof. Dr. Harlina akan selalu hidup—bukan hanya dalam catatan akademik, tetapi dalam setiap senyum yang berhasil ia kembalikan kepada dunia.
JEJAK KEMANUSIAAN MENYALA DALAM SETIAP SENYUM
Jika ilmu adalah cahaya, maka pengabdian adalah jalan yang membuat cahaya itu sampai kepada manusia. Dalam lima tahun terakhir, jejak pengabdian Prof. Dr. Harlina, drg., M.Kes. bukan sekadar rangkaian kegiatan—melainkan aliran panjang kepedulian yang menyentuh lapisan terdalam kehidupan masyarakat. Ia tidak menunggu masyarakat datang pada ilmu, tetapi justru membawa ilmu itu turun, menyapa, dan menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari.
Pada tahun 2020, di tengah tantangan zaman yang tidak ringan, ia hadir di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo—membawa pengetahuan tentang lesi mukosa rongga mulut berpotensi ganas kepada para lansia. Di sana, ia tidak hanya berbicara sebagai akademisi, tetapi sebagai penjaga harapan. Ia mengajarkan bahwa deteksi dini bukan sekadar konsep medis, melainkan kunci keselamatan yang bisa menyelamatkan kehidupan.
Memasuki tahun 2022, melalui Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN), ia menjadi bagian dari gerakan besar yang menggemakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 14, 17, dan 18 Oktober itu, ia berdiri di tengah masyarakat, menyatukan ilmu dan aksi, menjadikan kesehatan bukan sekadar wacana, tetapi gerakan nyata.
Pada 18 November 2023, langkahnya kembali menapak di Desa Taraweang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Di balai desa yang sederhana, ia menyampaikan edukasi kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kata-katanya bukan sekadar penyuluhan, tetapi pesan yang membangkitkan kesadaran—bahwa kesehatan adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama.
Tak lama berselang, pada 20–22 Desember 2023, ia terlibat dalam bakti sosial pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta teledentistry dalam rangka BKGN. Di sini, ia menggabungkan sentuhan kemanusiaan dengan kemajuan teknologi, menjembatani jarak yang selama ini menjadi penghalang akses layanan kesehatan.
Pada 3–5 November 2023, ia tidak hanya hadir sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai pendamping—membimbing mahasiswa dalam kegiatan bakti sosial di Kabupaten Bantaeng. Ia menanamkan nilai bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang keterampilan, tetapi juga tentang empati dan keberanian untuk hadir di tengah masyarakat.
Bahkan dalam kegiatan pemasangan protesa mata di RSGMP Unhas pada 14 April 2023, ia menunjukkan bahwa pengabdian tidak mengenal batas disiplin. Ia hadir untuk mengembalikan bukan hanya fungsi, tetapi juga kepercayaan diri—memberi harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.
Memasuki tahun 2024, cakupan pengabdiannya semakin luas dan mendalam. Di Puskesmas Ujung Lero dan Lampa, Kabupaten Pinrang, ia mengusung tema besar tentang identifikasi pre-eklampsia melalui pemeriksaan rongga mulut. Sebuah pendekatan yang melampaui batas konvensional, menghubungkan kesehatan gigi dengan kesehatan ibu hamil—membuktikan bahwa ilmu yang terintegrasi mampu membuka jalan baru dalam pelayanan kesehatan. Ia juga mengajarkan para ibu untuk memeriksa rongga mulut sendiri, menjadikan mereka subjek aktif dalam menjaga kesehatan, bukan sekadar objek pelayanan.
Masih di tahun yang sama, melalui BKGN bertema “Berani Unjuk Gigi, Dukung Senyum Indonesia Lebih Kuat”, ia kembali menggerakkan kesadaran kolektif. Ia mengajak masyarakat untuk tidak lagi ragu, tidak lagi takut, tetapi berani menjaga kesehatan gigi sebagai bagian dari kualitas hidup.
Pada 22 Maret 2025, dalam suasana penuh makna Amaliah Ramadhan 1446 H bersama PDGI Cabang Makassar, ia menghadirkan sentuhan spiritual dalam pengabdian. Di sini, pelayanan kesehatan berpadu dengan nilai keikhlasan, menjadikan setiap tindakan sebagai ibadah yang memberi manfaat luas.
Tahun 2025 menjadi puncak dari rangkaian pengabdian yang semakin masif. Dari bakti sosial dan pengobatan massal, hingga BKGN pada 3–5 Desember dengan tema “Gigi & Gusi Sehat, Senyum Indonesia Hebat”, ia memastikan bahwa layanan kesehatan dapat diakses tanpa rasa takut, tanpa biaya, dan tanpa kerumitan. Ia menghapus batas antara pelayanan dan kebutuhan, menghadirkan kesehatan sebagai sesuatu yang dekat dan terjangkau.
Di Palopo, Luwu, dan Luwu Utara, ia kembali hadir melalui penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, menjangkau wilayah yang luas dengan semangat yang tak pernah surut. Dan di Kota Parepare, ia mengangkat tema yang lebih kompleks—peningkatan pengetahuan dan keterampilan dokter gigi dalam menangani pasien HIV/AIDS. Sebuah langkah berani yang tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap kelompok yang sering terpinggirkan.
Keseluruhan perjalanan ini bukan sekadar daftar kegiatan. Ia adalah narasi besar tentang dedikasi yang tak pernah lelah, tentang ilmu yang terus bergerak, dan tentang hati yang selalu terpanggil untuk memberi.
Prof. Dr. Harlina telah membuktikan bahwa pengabdian bukanlah aktivitas sesaat, melainkan jalan hidup. Ia tidak hanya hadir di ruang-ruang akademik, tetapi juga di tengah masyarakat—membawa harapan, menyebarkan pengetahuan, dan menyalakan kesadaran.
Dalam setiap langkahnya, ia meninggalkan jejak yang tak terlihat namun terasa: senyum yang kembali, rasa percaya diri yang tumbuh, dan kehidupan yang menjadi lebih baik. Dan selama langkah itu terus berlanjut, maka pengabdiannya akan terus hidup—mengalir, menyentuh, dan menginspirasi tanpa henti.
SIMFONI KECIL MENOPANG KEAGUNGAN PENGABDIAN
Sering kali, yang tampak sebagai “kegiatan penunjang” justru menjadi fondasi sunyi dari bangunan besar pengabdian dan keilmuan. Dalam perjalanan Prof. Dr. Harlina, drg., M.Kes., setiap aktivitas yang mungkin terlihat sederhana itu sejatinya adalah simpul-simpul penting yang merajut jejaring ilmu, kolaborasi, dan pengaruh yang luas.
Di balik panggung besar pengabdian masyarakat dan penelitian, ia hadir sebagai penggerak—menjadi panitia Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) pada berbagai tahun, bukan sekadar sebagai pelaksana teknis, tetapi sebagai arsitek gerakan sosial kesehatan yang menjangkau ribuan senyum. Dalam peran itu, ia memastikan bahwa setiap detail berjalan, setiap layanan tersampaikan, dan setiap masyarakat merasakan manfaat nyata dari ilmu yang selama ini dipelajari di ruang akademik.
Keterlibatannya dalam Temu Ilmiah Internasional Kedokteran Gigi (TIIKG) XII dan The 8th International Conference on Biophysical Technology in Dentistry menjadi bukti bahwa langkahnya tidak hanya berpijak pada lingkup lokal, tetapi juga menembus cakrawala global. Di sana, ia ikut menggerakkan roda pertemuan ilmiah yang mempertemukan gagasan, memperkaya perspektif, dan membuka jalan kolaborasi lintas negara.
Namun, keagungan itu tidak membuatnya berhenti belajar. Ia tetap hadir sebagai peserta dalam workshop pemutakhiran pembelajaran, simposium, hingga berbagai international guest lecture. Dari topik keganasan oromaksilofasial hingga fisiologi oral, dari metodologi penelitian hingga komunikasi dalam pelayanan kesehatan—ia menyerap ilmu seperti samudra yang tak pernah penuh. Baginya, menjadi profesor bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk terus bertumbuh.
Perannya sebagai Ketua dan Sekretaris blok/non-blok mata kuliah menunjukkan bahwa ia juga seorang perancang masa depan. Ia tidak hanya mengajar di kelas, tetapi merancang sistem pembelajaran, memastikan setiap mahasiswa mendapatkan pengalaman akademik yang terstruktur, relevan, dan bermakna.
Dalam forum Focus Group Discussion (FGD), ia turut menyempurnakan panduan klinik dan menyusun soal exit exam—sebuah pekerjaan yang mungkin tak terlihat oleh publik, tetapi sangat menentukan kualitas lulusan. Di tangan orang-orang seperti dirinya, standar pendidikan tidak hanya dijaga, tetapi terus ditingkatkan.
Keterlibatannya dalam berbagai kuliah internasional mencerminkan keterbukaan pikirannya terhadap perkembangan global. Ia berdiri sebagai pembelajar sekaligus penghubung—menyerap ilmu dari dunia luar, lalu mengalirkannya kembali ke dalam sistem pendidikan nasional.
Bahkan dalam kegiatan yang sarat nilai spiritual seperti Amaliah Ramadhan, ia tetap mengambil peran sebagai panitia. Di sana, ia menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus berbentuk akademik—tetapi juga bisa hadir dalam bentuk kebersamaan, kepedulian, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada tahun 2025, keterlibatannya kembali menguat dalam berbagai kegiatan BKGN, seminar pengabdian masyarakat, hingga forum internasional seperti TIIKG XIII dan kolaborasi Hasanuddin University–Niigata University. Ia tidak hanya hadir, tetapi menjadi bagian dari denyut yang menjaga ritme kemajuan ilmu kedokteran gigi tetap hidup dan berkembang.
Semua ini menunjukkan satu hal: bahwa tidak ada peran yang terlalu kecil dalam perjalanan besar. Bagi Prof. Harlina, setiap kegiatan—baik sebagai panitia, peserta, maupun penggagas—adalah bagian dari ibadah intelektual. Ia menjalani semuanya dengan kesungguhan yang sama, dengan dedikasi yang tidak berkurang, dan dengan semangat yang selalu menyala.
Kegiatan penunjang dalam hidupnya bukan sekadar pelengkap, melainkan penguat. Ia adalah energi tambahan yang membuat langkahnya semakin kokoh, semakin luas, dan semakin berdampak.
Dan dari semua itu, kita belajar bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Kadang, ia tumbuh dari kesetiaan pada hal-hal kecil—yang dikerjakan dengan sepenuh hati, berulang kali, tanpa lelah.
Di situlah Prof. Dr. Harlina berdiri—sebagai sosok yang memahami bahwa setiap peran, sekecil apa pun, adalah bagian dari misi besar: membangun ilmu, melayani manusia, dan menyalakan harapan.
BIODATA
A. Data Pribadi
Nama: Prof. Dr. Harlina, drg., M.Kes.
NIP: 196301181989032002
NIDN: 0018016301
Tempat/Tanggal Lahir: Tanete, 18 Januari 1963
Agama: Islam
Status Pernikahan: Sudah Menikah
Alamat Rumah: Komp. Unhas Tamalanrea AB/16, Makassar
Kantor: Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin
Pekerjaan: Dosen Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin
Alamat Kantor: Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, Makassar
No. Telepon Kantor: (0411) 586012
Email: harlinailmar@yahoo.com
Tempat Praktik: RSGM Unhas
Riwayat Pendidikan
S1 Universitas Hasanuddin Kedokteran Gigi
S2 Universitas Airlangga Ilmu Penyakit Mulut
S3 Universitas Airlangga Kedokteran
Publikasi dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Publikasi Jurnal
1 2022 Peranan ekstrak daun mangrove (Avicennia marina) terhadap penyembuhan angular cheilitis yang diinduksi Staphylococcus aureus dan Candida albicans pada tikus jantan putih galur Wistar Makassar Dental Journal
2 2022 Oral potentially malignant disorder awareness level among elder community in the Belawa District, Wajo, South Sulawesi, Indonesia Journal of Dentomaxillofacial Science (J Dentomaxillofac Sci)
3 2023 Efek ekstrak bunga mawar terhadap penyembuhan angular cheilitis yang diinduksi Staphylococcus aureus dan Candida albicans pada tikus jantan Wistar Makassar Dental Journal
Pengabdian Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun/Tanggal Kegiatan
1 2020 Penyuluhan dan pelatihan pengenalan lesi mukosa rongga mulut berpotensi ganas pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo
2 14, 17, 18 Oktober 2022 Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN)
3 18 November 2023 Penyuluh pada kegiatan “Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut dalam Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat” di Balai Desa Taraweang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
4 20–22 Desember 2023 Bakti sosial pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta teledentistry (BKGN)
5 3–5 November 2023 Pendamping mahasiswa pada kegiatan bakti sosial BEM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin di Kabupaten Bantaeng
6 14 April 2023 Bakti sosial pemasangan protesa mata RSGMP Unhas
7 2024 Pengabdian masyarakat dengan tema “Identifikasi pre-eklampsia pada ibu hamil melalui pemeriksaan rongga mulut: pelatihan periksa mulut sendiri pada ibu hamil & pengenalan lesi jaringan lunak rongga mulut untuk paramedis” di Puskesmas Ujung Lero serta kegiatan “Penyuluhan, pemeriksaan, dan pembersihan karang gigi” di Puskesmas Lampa, Kabupaten Pinrang
8 2024 BKGN dengan tema “Berani Unjuk Gigi, Dukung Senyum Indonesia Lebih Kuat”
9 22 Maret 2025 Bakti sosial Amaliah Ramadhan 1446 H PDGI Cabang Makassar
10 2025 Bakti sosial dan pengobatan massal
11 3–5 Desember 2025 BKGN dengan tema “Gigi & Gusi Sehat, Senyum Indonesia Hebat” (cek gigi & gusi gratis tanpa cemas dan ribet)
12 2025 Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut PDGI Cabang Palopo (Palopo, Luwu, dan Luwu Utara)
13 2025 Pengabdian masyarakat dengan tema “Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dokter gigi dalam penatalaksanaan gigi dan mulut pasien HIV/AIDS di Kota Parepare, Sulawesi Selatan”
Kegiatan Penunjang
No. Tahun/Tanggal Kegiatan
1 2022 Panitia Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
2 2022 Panitia pelaksanaan Temu Ilmiah Internasional Kedokteran Gigi (TIIKG) XII dan The 8th International Conference on Biophysical Technology in Dentistry (8th ICoBTD), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
3 2024 Panitia pelaksanaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
4 2024 Peserta Workshop Pemutakhiran Portofolio Pembelajaran pada aplikasi SIPAKAMASE dan evaluasi pembelajaran semester akhir Tahun Akademik 2023/2024 Fakultas Kedokteran Gigi Unhas
5 25–27 April 2024 Peserta simposium (kegiatan teori)
6 2023/2024 Surat tugas sebagai Ketua/Sekretaris Blok/Non-Blok Mata Kuliah Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Semester Akhir Tahun Ajaran 2023/2024
7 2023 Panitia bakti sosial pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta teledentistry (BKGN)
8 15 November 2023 Peserta International Class Guest Lecture (Oromaxillofacial 2 Course) dengan topik “Malignancy in Oral and Maxillofacial Region”
9 16 November 2023 Peserta International Class Guest Lecture (Basic Hard Tissue Diseases Course) dengan topik “Hard Tissue Diseases”
10 17 Oktober 2023 Peserta International Class Lecture (Geriatric Course) dengan topik “Stomatognatic Functional Research and Prosthetic Treatment Required in a Superaged Society”
11 18 Oktober 2023 Peserta International Class Guest Lecture (Basic Stomatognatic System) dengan topik “Fundamental Orthodontics and Surgical Orthodontics Treatment”
12 19 September 2023 Peserta International Class Guest Lecture (Oral Rehabilitation 2 Course) dengan topik “Current Trends in Fixed Prosthodontics in Japan”
13 26 Oktober 2023 Peserta International Class Guest Lecture (Basic Medical Science/K-23) dengan topik “Oral Physiology: Masticatory and Swallowing System”
14 7–8 Oktober 2023 Panitia Focus Group Discussion (FGD): Revisi Panduan Klinik dan Penyusunan Soal Exit Exam Program Studi Pendidikan Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
15 13 September 2023 Peserta International Class Lecture (Biostatistic and Research Methodology) dengan topik “Study Design”
16 4 September 2023 Peserta International Class Lecture (Basic Oral Soft Tissue Diseases) dengan topik “Communication for Health Care Provider”
17 2023 Panitia pelaksanaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
18 2025 Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H Masjid Al-Ikhlas Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea, Makassar
19 2025 Panitia Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) dengan tema “Gigi & Gusi Sehat, Senyum Indonesia Hebat”
20 2025 Panitia pelaksanaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
21 2025 Panitia seminar pengabdian masyarakat dengan tema “Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Dokter Gigi dalam Penatalaksanaan Gigi dan Mulut Pasien HIV/AIDS di Kota Parepare, Sulawesi Selatan”
22 20–22 Februari 2025 Peserta “Interdisciplinary Collaboration: Navigating the Future of Dentistry” (TIIKG XIII, ICoBTD, dan Joint Conference Hasanuddin University–Niigata University), Makassar




