JEJAK LANGKAH TAK TERPADAMKAN DALAM PENGABDIAN
Di sebuah pagi yang seolah tak pernah biasa, dari tanah kelahiran Maros pada 30 Maret 1969, lahirlah seorang putra daerah yang kelak menapaki lorong-lorong panjang pengabdian dengan langkah yang nyaris tak pernah goyah: H. Andi Bukti Djufrie, S.P., M.Si. Sosok yang hari ini dikenal sebagai pejabat dengan pangkat terakhir IV.c dan pernah mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Sosial, bukan sekadar nama dalam deretan birokrasi—melainkan denyut nadi dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dedikasi.
Bertempat tinggal di sudut strategis Kota Makassar, tepatnya di Jl. Rappocini Raya, Komp. Citra Griyatama Estate D.16, ia menjalani kehidupan yang tampak sederhana, namun menyimpan kisah luar biasa tentang ketekunan, disiplin, dan semangat pengabdian yang tak pernah padam. Sebagai seorang laki-laki yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, ia menjadikan integritas sebagai kompas utama dalam setiap langkahnya.
Perjalanan kariernya dimulai dari titik yang nyaris tak terdengar, namun sarat makna. Pada November 2000, ia mengawali kiprahnya sebagai Kasubsi Bersih dan Intensifikasi di Dinas Pertanian Kota Makassar. Dari sana, langkahnya melesat, menembus sekat-sekat birokrasi dengan kecepatan yang mencengangkan. Hanya dalam hitungan bulan, ia dipercaya sebagai Kasubid Industri Pertanian dan Industri di Bappeda Kota Makassar—sebuah posisi strategis yang menuntut ketajaman analisis dan keberanian mengambil keputusan.
Namun, babak sesungguhnya dimulai ketika ia dipercaya memimpin wilayah sebagai Camat Ujung Pandang. Selama periode 2003 hingga 2008, ia bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan “arsitek sosial” yang merajut harmoni di tengah kompleksitas masyarakat urban. Di tangannya, wilayah itu seolah menemukan denyut baru—tertib, terarah, dan penuh harapan.
Tak berhenti di sana, ia kemudian melangkah ke Kecamatan Panakkukang, salah satu kawasan paling dinamis di Kota Makassar. Dari 2008 hingga 2012, ia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks—ledakan urbanisasi, dinamika sosial, hingga tuntutan pelayanan publik yang kian tinggi. Namun, ia menjawab semuanya dengan kepemimpinan yang tegas sekaligus humanis.
Puncak gelombang pengabdiannya kian terasa saat ia dipercaya sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar pada 2012. Di posisi ini, ia seolah berdiri di garis depan dalam memperjuangkan nasib ribuan tenaga kerja. Kebijakan-kebijakannya digambarkan sebagai “jembatan emas” antara harapan pencari kerja dan realitas dunia industri.
Kemudian, panggilan tugas membawanya ke posisi strategis lainnya sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Makassar pada 2016 hingga 2018. Di sinilah ia memainkan peran krusial dalam membuka gerbang investasi, menyederhanakan birokrasi, dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan berkelas. Banyak yang menyebut masa ini sebagai era “akselerasi senyap”—di mana perubahan besar terjadi tanpa gaduh, namun berdampak luas.
Dan ketika akhirnya ia mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Sosial, perjalanannya mencapai dimensi yang lebih dalam—menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung. Ia tidak hanya bekerja dengan angka dan kebijakan, tetapi dengan empati, rasa, dan kepedulian terhadap mereka yang paling membutuhkan.
Jejak panjang ini bukan sekadar rangkaian jabatan, melainkan mozaik pengabdian yang tersusun dari kerja keras, dedikasi, dan komitmen tanpa henti. H. Andi Bukti Djufrie bukan hanya birokrat—ia adalah simbol dari perjalanan seorang anak daerah yang menjelma menjadi pilar pelayanan publik.
Di tengah riuhnya perubahan zaman, namanya berdiri tegak sebagai pengingat bahwa pengabdian sejati tidak pernah lahir dari ambisi semata, melainkan dari ketulusan yang terus menyala—tanpa lelah, tanpa jeda.
JEJAK INTELEKTUAL MENYALA: DARI BANGKU SEKOLAH HINGGA PANGGUNG KEPEMIMPINAN
Langkah besar tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari lorong-lorong panjang pendidikan, dari lembar demi lembar buku yang dibaca dalam sunyi, hingga ruang-ruang kelas yang menjadi saksi bisu lahirnya gagasan besar. Begitulah kisah perjalanan pendidikan H. Andi Bukti Djufrie—sebuah kisah yang bukan sekadar kronologi akademik, tetapi sebuah epos panjang tentang ketekunan, visi, dan pembentukan karakter seorang pemimpin.
Perjalanan itu dimulai dari SMA Negeri 2 Watampone, sebuah institusi pendidikan di tanah Watampone, tempat ia menamatkan pendidikan menengahnya pada tahun 1987. Di sana, dalam kesederhanaan ruang kelas dan riuhnya semangat remaja, ia mulai merajut mimpi-mimpi besar. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial yang ia pilih bukan sekadar pilihan akademik, melainkan fondasi awal bagi pemahaman luas tentang masyarakat—sebuah bekal yang kelak menjadi napas dalam setiap kebijakan yang ia ambil.
Namun, ia tidak berhenti di sana. Langkahnya berlanjut ke salah satu kampus paling prestisius di Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin. Di kampus inilah ia menapaki fase penting dalam hidupnya. Tahun 1991, ia menyelesaikan Diploma III di bidang Penyuluhan Pertanian—sebuah disiplin yang menuntut bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi juga kemampuan menjembatani ilmu dengan realitas masyarakat. Seolah belum cukup, ia kembali menegaskan komitmennya terhadap ilmu dengan meraih gelar Strata I (S-1) Pertanian pada tahun 1996 di universitas yang sama.
Namun bagi sosok ini, pendidikan bukanlah sekadar pencapaian gelar, melainkan perjalanan tanpa garis akhir. Ia terus melangkah, menembus batas, hingga akhirnya meraih gelar Strata II (S-2) Manajemen Perkotaan pada 13 Februari 2002—sebuah bidang yang menuntut ketajaman berpikir strategis dalam mengelola kompleksitas kota modern. Pada titik ini, ia tidak lagi hanya menjadi seorang akademisi, tetapi mulai menjelma menjadi arsitek pemikiran pembangunan.
Seakan belum cukup dengan fondasi akademik yang kokoh, ia melengkapi dirinya dengan berbagai pendidikan kepemimpinan yang prestisius. Melalui Diklatpim Tingkat IV tahun 2001, kemudian Diklatpim Tingkat III tahun 2003, hingga mencapai Diklatpim Tingkat II pada tahun 2014 yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara, ia mengasah dirinya menjadi pemimpin yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga piawai dalam praktik. Setiap jenjang diklat yang ia lalui adalah anak tangga menuju kematangan kepemimpinan—membentuk cara berpikir, memperluas perspektif, dan meneguhkan integritas.
Tak berhenti pada ranah kepemimpinan, ia juga menapaki berbagai pelatihan fungsional yang memperkaya dimensi keilmuannya. Dari manajemen perkotaan hingga tata pemerintahan, dari pengelolaan daerah hingga dinamika pembangunan kota—semua ia jalani dengan keseriusan yang nyaris tak tertandingi. Pelatihan-pelatihan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan laboratorium hidup tempat ia menguji gagasan dan memperkaya strategi.
Dan di balik itu semua, terselip pula berbagai pelatihan teknis yang memperkuat ketajaman praktisnya. Mulai dari forum teknologi terpusat di Bogor hingga bimbingan teknis teknologi tepat guna oleh Departemen Dalam Negeri, ia terus memperbarui dirinya, seolah menolak untuk berhenti belajar. Bahkan dalam pelatihan yang hanya berlangsung beberapa hari, ia mampu menyerap makna yang jauh melampaui durasi waktu—mengubahnya menjadi bekal nyata dalam pengabdian.
Inilah potret seorang pembelajar sejati. Sosok yang memandang pendidikan bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai panggilan hidup. Setiap ijazah yang diraih bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Setiap pelatihan yang diikuti bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari proses panjang menuju kesempurnaan diri.
Dalam dunia yang terus berubah, di mana tantangan semakin kompleks dan tuntutan semakin tinggi, jejak pendidikan H. Andi Bukti Djufrie berdiri sebagai bukti bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan hanya pada jabatan yang ia sandang, tetapi pada kedalaman ilmu yang ia miliki. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati lahir dari perpaduan antara pengetahuan, pengalaman, dan keberanian untuk terus belajar—tanpa henti, tanpa lelah, hingga waktu pun seolah tunduk pada tekadnya.
Di tengah padatnya jejak pengabdian yang telah ia ukir selama puluhan tahun, H. Andi Bukti Djufrie kembali membuktikan bahwa belajar tidak pernah mengenal kata selesai. Ia kini tengah menapaki puncak tertinggi dunia akademik—melanjutkan pendidikan Strata III (S-3) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Kebijakan Publik di Universitas Hasanuddin.
Perjalanan ini bukan sekadar kelanjutan studi, melainkan sebuah “ziarah intelektual” menuju kedalaman pemikiran yang lebih hakiki. Di ruang-ruang akademik yang penuh dialektika, ia mengasah gagasan, menantang teori, dan merumuskan konsep-konsep kebijakan yang tak hanya relevan, tetapi juga visioner. Setiap halaman penelitian yang ia tulis seakan menjadi saksi bagaimana pengalaman panjangnya di birokrasi bertemu dengan ketajaman analisis akademik—melahirkan sintesis yang kuat antara praktik dan teori.
Kini, ia berdiri di ambang gerbang terakhir. Tahapan panjang yang telah ia lalui hampir mencapai klimaksnya. Hanya tersisa dua langkah monumental: seminar hasil dan promosi doktor. Dua fase ini bukan sekadar prosedur akademik, melainkan panggung pembuktian terakhir—di mana seluruh gagasan, data, dan refleksi panjang akan diuji dalam forum ilmiah yang penuh ketelitian dan ketegangan intelektual.
Situasi ini ibarat seorang pelari maraton yang telah menempuh ribuan kilometer pemikiran—keringat intelektual yang jatuh tanpa henti, malam-malam panjang yang dipenuhi analisis, hingga diskusi-diskusi yang menguji batas nalar. Dan kini, garis finis itu telah tampak di depan mata.
Jika langkah terakhir ini terlewati, maka bukan hanya gelar doktor yang akan disematkan, tetapi juga pengukuhan atas perjalanan panjang seorang pembelajar sejati. Ia tidak hanya akan menjadi birokrat berpengalaman, tetapi juga seorang doktor kebijakan publik—seorang pemikir yang mampu membaca masa depan dan merumuskan arah perubahan.
Dalam lanskap kepemimpinan modern, capaian ini bukan sekadar prestasi personal, melainkan simbol bahwa pengabdian dan keilmuan dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan melahirkan dampak yang jauh lebih besar bagi masyarakat. Dan H. Andi Bukti Djufrie, dengan segala ketekunan dan daya juangnya, kini tinggal selangkah lagi menorehkan babak baru dalam sejarah hidupnya—babak yang akan dikenang sebagai puncak dari sebuah perjalanan intelektual yang luar biasa.
BIODATA
Nama : H. Andi Bukti Djufrie, S.P., M.Si
Tempat, Tanggal Lahir : Maros, 30 Maret 1969
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Rappocini Raya, Komp. Citra Griyatama Estate D.16
Pangkat Terakhir : IV.c
Jabatan Terakhir : Kepala Dinas Sosial
RIWAYAT JABATAN
1. Kasubsi Bersih dan Intensifikasi, Dinas Pertanian Kota Makassar (Eselon IV.b), periode November 2000 – Februari 2001, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.24.63-2000.
2. Kasubid Industri Pertanian dan Industri, Bappeda Kota Makassar (Eselon IV.b), periode Februari 2001 – Juli 2003, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.22.15-2001.
3. Camat Ujung Pandang, Kota Makassar (Eselon III.b), periode Juli 2003 – Juli 2006, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.22.48-2003.
4. Camat Ujung Pandang, Kota Makassar (Eselon III.a), periode Juli 2006 – Maret 2008, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.22.63-2006.
5. Camat Panakkukang, Kota Makassar (Eselon III.a), periode Maret 2008 – Februari 2012, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.27.11-2008.
6. Kepala Dinas Tenaga Kerja, Kota Makassar (Eselon II.b), periode Februari 2012 – Desember 2016, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.22.39-2012.
7. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Kota Makassar (Eselon II.b), periode Desember 2016 – Desember 2018, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.22.604-2016.
RIWAYAT PENDIDIKAN
Pendidikan Umum:
1. SMA Sederajat (Jurusan IPS), SMA Negeri 2 Watampone, lulus tahun 1987, Nomor STTB/Ijazah: 06.0C.0a0402221.
2. Diploma III (D-III) Penyuluhan Pertanian, Universitas Hasanuddin, lulus tahun 1991, Nomor Ijazah: 3581.039.13/113-3-91.
3. Strata I (S-1) Pertanian, Universitas Hasanuddin, lulus tahun 1996, Nomor Ijazah: 31564-039-05/087.351-96.
4. Strata II (S-2) Manajemen Perkotaan, Universitas Hasanuddin, lulus tanggal 13 Februari 2002, Nomor Ijazah: 73500-J04-P/206.
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN
1. Diklatpim Tingkat IV, diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar, tahun 2001, selesai pada 10 Oktober 2001.
2. Diklatpim Tingkat III, diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar, tahun 2003, selesai pada 02 Juni 2003.
3. Diklatpim Tingkat II, diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar, tahun 2014, selesai pada 18 Juli 2014.
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN FUNGSIONAL
1. Diklat Manajemen Sarjana dan Pascasarjana Perkotaan, diselenggarakan oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Angkatan II Tahun 2018, dengan lama pendidikan 40 jam, Nomor STTPP: 420/48/Peng/Diklat/XI/2008, tanggal 07 September 2002.
2. Diklat Manajemen Pemerintahan Daerah, diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Makassar, tahun 2002, dengan lama pendidikan 4 hari, Nomor STTPP: 501/MPSO/CBUIM/2002, tanggal 24 Juni 2003.
3. Diklat Pengelolaan Perkotaan, diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Makassar, Angkatan I Tahun 2003, dengan lama pendidikan 7 hari, Nomor STTPP: 893.3/103.a/25/Badiklat/2003.
4. Diklat Tata Pemerintahan, diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Makassar (data detail belum lengkap).
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TEKNIS
1. Diklat Teknis, diselenggarakan oleh Badan Diklat, tahun 2004, dengan lama pendidikan 80 jam, Nomor STTPP: 833/178/XX/XIV/Badiklat/2004, tanggal 29 November 2004.
2. Forum Fasilitas Terpusat Teknologi, diselenggarakan oleh Dirjen Bangda di Bogor, Angkatan I Tahun 2001, dengan lama pendidikan 5 hari, Nomor STTPP: 882/IV/Bangda.
3. Bimbingan Teknis Teknologi Tepat Guna, diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri, Angkatan XI Tahun 2004, dengan lama pendidikan 3 hari, Nomor STTPP: 893.3/985/Kepem, tanggal 15 Desember 2004.




