• Haji Indonesia; Dari Detektor Orang Hilang ke Kapsul Anti Lapar
    Oleh | Rabu, 22 Agustus 2018 | 14:26 WITA

    Oleh: Prof Hamdan Juhannis

    Wakil rektor IV UIN Alauddin

    Menulis dari Tanah Suci Mekah

    SAYA terinspirasi dengan coretan ini, saat jamaah Haji masih sering hilang. Baik di kawasan Masjid Haram dan yang lebih mengkhawatirkan, dalam kegiatan pelontaran jumrah.

    Biasanya yang hilang adalah jamaah yang sudah udzur yang sebenarnya bisa dibadalkan dalam pelontaran tetapi tetap memaksakan diri untuk melontar.

    Persoalan jamaah hilang karena kemampuan komunikasi yang terbatas dan dari segi umur yang membuat mereka memiliki keterbatasan gerak.

    Dari perbincangan teman-teman di tenda, sudah saatnya memang dibuatkan alat canggih untuk mendeteksi jamaah hilang. Sebenarnya alat komunikasi berupa Hp sudah cukup membantu, tetapi rata-rata jamaah yang berumur atau dari daerah terpencil tidak bisa menggunakan Hpnya selama berhaji.

    Kita memang sudah memiliki identifikasi berlapis tapi terkadang tidak bisa membantu karena pertama keterbatasan komunikasi, mengandalkan sistim kelompok, dan ketiga kurangnya pemahaman jemaah tentang sistim manajemen haji. Termasuk peta pemondokan dan perkemahan, sehingga tidak begitu mudah menunjuk ke arah mana si jamaah harus berjalan.

    Terobosan apa yang perlu dilakukan oleh penyelenggara Haji? Kita bisa membuatkan rompi seperti negara-negara lain. Kita bisa membuatkan lampu kedap kedip yang digantung pada leher jamaah saat berjalan malam. Namun semua itu bisa tidak efektif kalau tiba-tiba ada yang berpisah dari kelompok.

    Apa yang paling efektif? Kita memiliki gelang yang diwajibkan untuk dipakai oleh para jamaah selama pelaksanaan haji. Di gelang besi itu terukir informasi tentang: nama jamaah, bendera negara, nama negara, nomor pasport, dan nama travel.

    Mungkin jauh lebih efektif kalau pada gelang ini diselipkan semacam chip yang bisa disambungkan kepada petugas haji di setiap travel.

    Dan setiap jamaah bisa dipantau keberadaannya dengan sistem alarm GPS. Misalnya saat ada jamaah terpisah dari radius 100 meter ke atas, maka petugas bisa menerima sinyal langsung. Dan kekhawatiran dengan jamaah hilang tidak perlu lagi terjadi.

    Kalau alasan pengadannya yang mahal, sudah tentu memang, tapi ini bisa jadi investasi yang bisa digunakan oleh jamaah Haji berikutnya, karena setiap jamaah diminta untuk kumpulkan kembali saat mereka pulang.

    Seiring dengan gelora animo masyarakat Muslim Indonesia untuk berhaji, itu juga bisa menajadi pemantik bagi lahirnya kreasi dan gerobosan teknologi baru negara ini. Misalnya studi kefarmasian kita perlu memikirkan pengembangan ‘kapsul anti lapar’ untuk mengantisipasi terganggunya ibadah wukuf karena antri makan siang dan antri toilet yang terlalu panjang.

    ‘Kapsul penunda lapar’ ini bisa secara signifikan juga mengurangi antrian panjang orang yang ingin ‘buang hajat’ yang sepertinya masih menjadi masalah di tenda-tenda perkemahan.

    Dan bukan lagi saatnya, masyarakat diajak untuk berlindung di bawah jargon ‘itu ujian’ setiap ada jamaah mengalami kesulitan hidup selama di tanah suci. Ujian sesungguhnya menurut saya adalah tantangan pemerintah untuk terus mencari terobosan bagaimana masyarakat Muslim bisa berhaji dengan semakin nyaman.

    Editor :Heny