Dra. Hj. Urfiah Syanty, M.H, MBA, Pendiri Yayasan Cipta Diri (YCD)

Oplus_16777216

Perempuan Tangguh, Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Di sebuah sudut Kota Makassar pada tahun 1991, seorang perempuan muda bernama Dra. Hj. Urfiah Syanty memulai langkah hidupnya dari sebuah salon kecantikan sederhana. Tempat itu awalnya hanyalah ruang kecil untuk mencari nafkah, namun perlahan berubah menjadi jendela yang membuka matanya terhadap kerasnya realitas sosial. Di kursi-kursi riasnya, bukan hanya perempuan dari kalangan menengah yang datang mempercantik diri, tetapi juga para waria dan perempuan marginal yang ingin belajar tata rias demi bertahan hidup, meski tak mampu membayar biaya kursus. Dari ruang sederhana itu, Urfiah melihat bahwa keterampilan bisa menjadi senjata paling ampuh untuk melawan kemiskinan dan keterpurukan.

Pengalaman tersebut mengubah arah hidupnya. Ia memahami bahwa perempuan yang terpinggirkan tidak membutuhkan belas kasihan semata, melainkan kesempatan untuk mandiri. Dari sanalah lahir keyakinan besar bahwa keterampilan adalah “kail” yang dapat mengangkat seseorang keluar dari lingkaran kemiskinan. Pemahaman itu kemudian menjadi fondasi perjuangannya selama puluhan tahun, membawa Urfiah dari seorang pengusaha salon lokal menjadi aktivis sosial, penggerak pemberdayaan perempuan, hingga tokoh nasional yang dikenal luas karena dedikasinya membantu masyarakat kecil di Sulawesi Selatan.

Perjalanan hidup Urfiah tidak bisa dipisahkan dari sosok sang ibu, Nesty, perempuan tangguh yang membesarkannya dalam keterbatasan. Setelah ditinggal wafat suami saat Urfiah masih berusia tujuh tahun, Nesty bertahan hidup dengan menjahit pakaian dan membuat kue kering. Dari tangan seorang ibu sederhana itulah Urfiah belajar arti perjuangan, kerja keras, dan harga diri.

“Ibu saya membiayai saya sampai kuliah dengan menjahit dan membuat kue,” kenang Urfiah. Kisah itu menjadi energi besar yang membentuk karakter kuat dalam dirinya, sekaligus mengajarkannya bahwa perempuan mampu menjadi penopang kehidupan keluarga di tengah kesulitan apa pun.
Dengan semangat pantang menyerah, Urfiah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia mengawali pendidikan di SD Muhammadiyah VII Makassar, melanjutkan ke SMP Negeri VII Makassar dan SMA UMI Makassar, sebelum akhirnya menempuh studi Sastra Inggris di Universitas Hasanuddin. Tidak berhenti di sana, ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Hukum di kampus yang sama. Perjalanan akademiknya menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi, selama ada tekad dan kerja keras yang terus menyala.

Salah satu titik penting dalam hidupnya terjadi ketika ia terpilih mewakili Indonesia dalam program pertukaran pemuda ke Jepang saat masih kuliah semester III. Pengalaman internasional itu membuka cakrawala berpikirnya tentang dunia, kedisiplinan, dan pentingnya pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan. Dari seorang anak yatim yang dibesarkan oleh ibu penjahit, Urfiah tumbuh menjadi perempuan visioner yang tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat martabat ribuan perempuan lain agar mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Dari Luka Kehidupan ke Cahaya Pemberdayaan

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Setelah menikah pada 1991 dan meninggalkan pekerjaannya di dunia perbankan, Dra. Hj. Urfiah Syanty justru menghadapi ujian berat yang mengubah arah hidupnya. Tiga tahun setelah membangun rumah tangga, pernikahannya kandas. Dengan seorang bayi perempuan yang belum genap berusia dua tahun, Ayu Sinta Nugraha, Urfiah kembali ke rumah sang ibu dalam kondisi yang nyaris sama seperti masa kecilnya dahulu—menjadi perempuan yang harus bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Namun keterpurukan itu tidak membuatnya menyerah. Justru dari titik terendah itulah lahir tekad besar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Urfiah mulai mencoba berbagai pekerjaan demi menyambung hidup dan membesarkan anaknya. Ia pernah menjadi agen asuransi, berdagang cengkeh, hingga aktif di berbagai organisasi untuk membangun jaringan sosial dan usaha. Semua dijalani dengan semangat pantang menyerah, karena ia percaya bahwa perempuan harus mampu menjadi kuat meski kehidupan tidak selalu berpihak padanya.
Di tengah perjuangan tersebut, Salon Ayu yang dirintisnya perlahan berkembang menjadi usaha yang cukup sukses di Makassar. Salon itu bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga ruang sosial tempat Urfiah berinteraksi dengan banyak perempuan dari berbagai latar belakang kehidupan. Di tempat itulah ia semakin memahami bahwa banyak perempuan, kaum marginal, dan anak muda putus sekolah sebenarnya memiliki potensi besar, namun tidak memiliki akses keterampilan untuk mengubah hidup mereka.

Kesadaran itu kemudian melahirkan langkah besar dalam hidupnya. Pada Juli 2001, Urfiah mendirikan Yayasan Cipta Diri (YCD), sebuah lembaga nonprofit yang fokus pada pendidikan nonformal dan pemberdayaan masyarakat. YCD hadir sebagai wujud nyata filosofi hidupnya: “beri kail, bukan ikan.” Berlokasi di Jalan Rappocini, Kecamatan Tamalate, Makassar, yayasan ini membuka pelatihan gratis bagi anak putus sekolah, penganggur, waria, mantan pekerja seks komersial, hingga ibu rumah tangga dari keluarga buruh. Bagi Urfiah, keterampilan adalah jalan menuju martabat dan kemandirian hidup.
Program pelatihannya pun beragam, mulai dari menjahit, menyulam, desain busana, tata rias, menari, hingga olah vokal. Pada awal berdiri, seluruh aktivitas yayasan dibiayai dari dana pribadi Urfiah. Namun semangat pengabdiannya perlahan mendapat perhatian luas.

Memasuki tahun ketiga, YCD memperoleh dukungan dan respons positif dari Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan serta Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. Dukungan itu menjadi bukti bahwa perjuangan kecil yang dimulai dari kepedulian sosial ternyata mampu memberi dampak besar bagi masyarakat.
Yang membuat YCD berbeda bukan hanya pelatihan keterampilannya, tetapi pendekatan holistik yang diterapkan Urfiah. Di setiap kelas, peserta tidak hanya belajar teknik kerja, tetapi juga diajarkan etika, rasa percaya diri, cara berkomunikasi, membangun relasi, dan menghargai diri sendiri. “Saya ingin mereka bisa menghargai diri mereka, dengan begitu mereka juga akan menghargai lingkungan sekitar mereka,” ujar Urfiah. Baginya, pemberdayaan sejati bukan hanya soal ekonomi, tetapi bagaimana manusia menemukan kembali harga dirinya.

Salah satu kisah sukses yang lahir dari YCD adalah Akmal Khapoor, seorang waria yang belajar tata rias dan seni vokal di yayasan tersebut. Setelah mendapat pelatihan, Akmal berhasil membentuk grup vokal dan meninggalkan kehidupan jalanan yang selama ini dijalaninya. Kisah seperti itulah yang membuat Urfiah semakin yakin bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah jika diberi ruang dan kepercayaan. Hingga kini, setelah lebih dari dua dekade berdiri, Yayasan Cipta Diri tetap menjadi simbol harapan dan bukti nyata perjuangan seorang perempuan yang memilih mengubah luka hidupnya menjadi cahaya bagi banyak orang.

Membawa Sutra Sulsel ke Dunia

Tahun 2011 menjadi titik penting dalam perjalanan pengabdian Dra. Hj. Urfiah Syanty ketika ia mendirikan Makassar Sampulo, sebuah wadah yang menghimpun para perajin, desainer, dan pengusaha sutra Sulawesi Selatan. Organisasi ini lahir dari kegelisahannya melihat kekayaan sutra lokal yang begitu indah, namun belum mendapatkan tempat layak di pasar dunia. Untuk pertama kalinya, para pegiat sutra dihimpun dalam satu gerakan bersama yang secara aktif mempromosikan sutra alam Sulawesi Selatan ke tingkat nasional hingga internasional.

Bagi Urfiah, sutra bukan sekadar kain mewah, melainkan identitas budaya dan sumber kehidupan ribuan perempuan di desa-desa Sulawesi Selatan. Ia melihat bagaimana para penenun bekerja dengan penuh ketekunan setiap hari, namun hasil jerih payah mereka sering kali tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh pasar. Melalui Makassar Sampulo, Urfiah membawa misi besar: menjadikan Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, sebagai salah satu pusat sutra alam dunia sekaligus memperjuangkan kesejahteraan para perempuan penenun yang selama ini menjadi tulang punggung industri kreatif lokal.

Di bawah kepemimpinannya, Makassar Sampulo tidak hanya bergerak mempromosikan produk sutra, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya keadilan ekonomi bagi para perajin. Urfiah percaya bahwa perempuan-perempuan penenun harus mendapatkan penghargaan yang layak atas karya dan keterampilan mereka. Ia aktif membuka akses pasar, memperluas jejaring bisnis, dan memperkenalkan produk-produk sutra Sulawesi Selatan ke berbagai forum nasional maupun internasional. Baginya, membela penenun berarti menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat akar rumput.

Perjalanan organisasinya terus berkembang ketika pada 2015 ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia versi Elza Syarif. Posisi tersebut menjadikan Urfiah sebagai salah satu tokoh pengusaha perempuan paling berpengaruh di kawasan timur Indonesia. Di IWAPI Sulsel, ia tidak hanya membina para anggota, tetapi juga aktif membuka peluang investasi dan kerja sama internasional demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Salah satu langkah pentingnya terlihat ketika ia menjadi fasilitator pertemuan antara Pemerintah Polandia yang diwakili Konselor Utama Romuald Morawski dengan Pemerintah Kota Makassar untuk membahas peluang investasi di bidang pertambangan dan pariwisata. Dalam forum tersebut, Urfiah menunjukkan kapasitasnya sebagai penghubung diplomasi ekonomi yang mampu mempertemukan kepentingan internasional dengan pembangunan daerah. “Dengan adanya keseriusan pemerintah Polandia yang akan berinvestasi di Makassar akan sangat menguntungkan pemerintah kota dan pemerintah provinsi,” ujarnya kala itu.
Karier organisasinya kemudian menembus level nasional saat ia dipercaya menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia pada masa kepemimpinan Suryo Bambang Sulastyo. Posisi tersebut membuka jalannya masuk ke jaringan bisnis elite Indonesia dan memberinya ruang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan UMKM perempuan di tingkat kebijakan nasional. Dari Sulawesi Selatan, Urfiah membawa suara perempuan pelaku usaha kecil agar mendapat perhatian yang lebih besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Komitmen pengabdiannya juga terlihat di bidang sosial dan kebangsaan. Pada 2024, Urfiah bergabung dalam Arenas Prabowo 08 sebagai Dewan Pembina Aliansi Relawan Nasional pendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Dalam perannya, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat di Jakarta Pusat. Bagi Urfiah, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ruang untuk terus mengabdi dan memperluas manfaat bagi masyarakat. Dari dunia usaha, pemberdayaan perempuan, hingga panggung kebangsaan, langkahnya terus menjadi bukti bahwa perempuan mampu hadir sebagai penggerak perubahan di berbagai lini kehidupan.

BIODATA

Dra. Hj. Urfiah Syanty, M.H., MBA
• Tempat/Tanggal Lahir: 30 Juni 1965
• Agama: Islam

RIWAYAT PENDIDIKAN
• SD Muhammadiyah VII Makassar (1971–1977)
• SMP Negeri VII Makassar (1978–1981)
• SMA UMI Makassar (1981–1984)
• S1 Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1984–1990)
• S2 Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (2007–2009)

KARIER
Pendiri Yayasan Cipta Diri (YCD), Juli 2001

Pendiri Makassar Sampulo, Tahun 2011

ORGANISASI
• Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Sulsel
• Pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia
• Dewan Pembina Arenas Prabowo 08
• Pembina TKN Golf Segmen Profesi

PRESTASI DAN PENGHARGAAN
Saat mahasiswa, mewakili Indonesia pertukaran pemuda ke Jepang selama satu tahun.

• Masuk daftar 100 Wanita Inspiratif Indonesia versi Majalah Kartini
• Tokoh perempuan penggerak UMKM dan pemberdayaan masyarakat Sulawesi Selatan
• Pelopor pelatihan keterampilan bagi perempuan marginal dan masyarakat rentan
• Penggerak promosi sutra Sulawesi Selatan ke pasar internasional
Filosofi Hidup
“Berikan kail, bukan ikan. Karena dengan kail, mereka akan belajar memancing untuk dirinya sendiri, dan suatu hari mereka akan mengajari orang lain memancing.”

Pos terkait

http://linksulsel.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-09-at-17.01.041-1.jpeg

Tinggalkan Balasan