Perkuat Peran Dakwah dan Pendidikan di Sulsel dan Sulteng
Prof. Dr. H. Abd. Rahman Qayyum, S.H., M.A.—nama yang tidak sekadar melekat pada gelar akademik, tetapi menggema dalam ruang-ruang majelis ilmu, mimbar dakwah, hingga lingkaran kepemimpinan daerah.
Berbasis di Makassar, Prof. Rahman Qayyum seakan menjadi poros yang menghubungkan berbagai dimensi kehidupan umat: ilmu, spiritualitas, dan kepemimpinan. Di tangannya, Rahman Qayyum Centre tumbuh bukan sekadar lembaga, melainkan episentrum pemikiran dan pembinaan umat yang terus berdenyut tanpa henti.
Namun, kiprahnya tak berhenti di sana. Di Ampana, ia memimpin Pesantren Darul Hadist Ibnu Qayyum—sebuah kawah candradimuka yang menempa generasi muda dengan disiplin ilmu agama yang kokoh sekaligus wawasan zaman yang luas. Di tempat ini, ajaran klasik bertemu realitas modern, melahirkan santri-santri yang tidak hanya alim, tetapi juga adaptif menghadapi perubahan.
Sebagai akademisi di UIN Makassar, ia menjelma menjadi jembatan antara dunia kampus dan realitas sosial. Kuliah-kuliahnya bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transformasi cara berpikir—mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami agama, tetapi juga menghidupkannya dalam setiap aspek kehidupan.
Tak mengherankan jika kehadirannya juga dibutuhkan di lingkaran kekuasaan. Sebagai penasihat spiritual bagi gubernur hingga wali kota dan bupati di Sulawesi Selatan, Prof. Rahman Qayyum memainkan peran sunyi namun menentukan—menyuntikkan nilai-nilai moral dan kebijaksanaan dalam setiap denyut kebijakan publik. Ia bukan sekadar pemberi nasihat, melainkan penjaga arah agar kekuasaan tetap berpijak pada etika dan keberkahan.
Di tengah masyarakat, pengaruhnya terasa melalui Majelis Taklim Fastabiqul Khaeraat dan Majelis Dzikir Nurul Khaeraat yang ia bina dan pimpin. Di sana, ribuan jamaah larut dalam lantunan zikir dan siraman rohani yang tidak hanya menyejukkan hati, tetapi juga membangkitkan kesadaran spiritual yang mendalam.
Perannya semakin kokoh ketika ia dipercaya memimpin Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Khaeraat di Palu, sebuah jaringan besar yang berada di bawah naungan ulama kharismatik Habib Assagaf bin Muhammad Idrus bin Salim Al-Jufri. Di tangan Prof. Rahman Qayyum, organisasi ini bukan hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga kekuatan sosial yang aktif menggerakkan dakwah dan pendidikan.
Dalam setiap ceramahnya, Prof. Rahman Qayyum dikenal menghadirkan spektrum materi yang luas dan mendalam—dari Islam kontemporer hingga kisah para nabi, dari fiqih empat mazhab hingga manajemen waktu dalam perspektif akhirat. Ia mengajak umat untuk tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga menghayatinya sebagai panduan hidup yang utuh—menggabungkan iman (IMTAQ) dan ilmu pengetahuan (IPTEK) dalam harmoni yang kuat.
Gaya dakwahnya yang komunikatif dan kontekstual membuat pesan-pesannya melampaui batas usia dan latar belakang. Ia mampu berbicara kepada generasi muda dengan bahasa masa kini, tanpa kehilangan kedalaman nilai-nilai klasik yang menjadi fondasi Islam itu sendiri.
Hari ini, nama Prof. Abd. Rahman Qayyum bukan sekadar identitas pribadi, melainkan simbol dedikasi tanpa henti—sebuah perjalanan panjang dari Poso menuju panggung besar dakwah Nusantara. Dalam dirinya, dakwah tidak hanya menjadi tugas, tetapi panggilan jiwa. Dan melalui langkah-langkahnya, ia terus menyalakan cahaya—menerangi jalan umat di tengah derasnya arus zaman.
Ketika Langit Nilai-Nilai Ilahi Menyentuh Realitas Zaman
Dalam setiap langkah dakwahnya, Prof. Dr. H. Abd. Rahman Qayyum, S.H., M.A. tidak sekadar menyampaikan ceramah—ia membangun sebuah jembatan megah antara langit wahyu dan bumi realitas manusia. Metodologi dakwah yang ia usung bukan hanya rangkaian materi, melainkan sebuah orkestrasi besar yang menyatukan ilmu, hikmah, dan kesadaran spiritual dalam satu tarikan napas yang utuh.
Di tangan beliau, Islam kontemporer tidak berhenti sebagai istilah, tetapi menjelma menjadi denyut nadi yang hidup—berdialog dengan zaman, menjawab kegelisahan generasi modern, dan menuntun manusia agar tidak tercerabut dari akar nilai-nilai Ilahi di tengah derasnya arus perubahan. Ia menghadirkan Islam bukan sebagai masa lalu yang usang, tetapi sebagai cahaya yang terus relevan, bahkan di tengah kompleksitas dunia digital dan globalisasi yang kian tak terbendung.
Ketika berbicara tentang hikmah ibadah, narasinya melampaui sekadar tata cara. Ia mengajak umat menyelami dimensi terdalam dari setiap gerakan dan bacaan—bahwa salat bukan hanya ritual, melainkan pertemuan agung antara hamba dan Tuhannya; bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi proses penyucian jiwa yang membentuk ketangguhan batin. Dalam perspektifnya, ibadah adalah energi yang menggerakkan kehidupan, bukan beban yang dipikul semata.
Dalam kajian fiqih empat mazhab, beliau menghadirkan keluasan pandangan yang menyejukkan. Perbedaan tidak dipertajam, melainkan dirangkul sebagai kekayaan khazanah Islam. Di sinilah dakwahnya menjadi penyeimbang—meredam potensi konflik, sekaligus meneguhkan bahwa persatuan umat berdiri di atas fondasi saling menghargai.
Tak berhenti pada dimensi hukum, ia juga membawa jamaah menyusuri lorong-lorong spiritualitas melalui kisah para sufi—baik dari masa klasik hingga era modern. Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita, tetapi cermin yang memantulkan kejernihan hati, keikhlasan, dan kedalaman cinta kepada Tuhan. Dalam narasi beliau, para sufi hadir bukan sebagai tokoh jauh di masa lalu, melainkan sebagai inspirasi hidup yang terus relevan.
Ketika memasuki pembahasan akhirat, suasana dakwah berubah menjadi lebih hening dan menggugah. Perspektif Al-Qur’an dan Hadis tentang kehidupan setelah mati dihadirkan dengan kekuatan narasi yang mampu mengguncang kesadaran. Tanda-tanda kiamat, kehidupan setelah kematian—semuanya disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangkitkan kesiapan jiwa. Seakan beliau mengajak setiap pendengar menatap cermin keabadian: bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan yang singkat.
Lebih jauh, kisah para nabi dihidupkan kembali sebagai sumber energi bagi etos kerja dan semangat juang. Dalam setiap cerita, tersimpan pesan bahwa kesuksesan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan, kesabaran, dan keteguhan iman. Dakwahnya menjadikan sejarah sebagai bahan bakar untuk membangun masa depan.
Dalam dunia yang semakin kompetitif, beliau juga menekankan profesionalisme dan proporsionalitas melalui teladan para sahabat Nabi. Bagi beliau, menjadi religius tidak berarti meninggalkan kualitas kerja—justru sebaliknya, iman harus melahirkan integritas, disiplin, dan keunggulan dalam setiap bidang kehidupan.
Tak kalah penting, manajemen waktu diangkat sebagai isu spiritual yang sering terlupakan. Waktu, dalam perspektifnya, bukan sekadar angka yang berlalu, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan hingga ke kehidupan akhirat. Setiap detik menjadi bernilai ketika diisi dengan kebaikan, dan setiap kelalaian menjadi pengingat akan rapuhnya manusia.
Puncaknya, beliau merangkai semua itu dalam satu visi besar: sinergi antara IPTEK dan IMTAQ. Di tengah era globalisasi yang kian cepat dan tanpa batas, beliau menegaskan bahwa kemajuan teknologi tanpa iman akan kehilangan arah, sementara iman tanpa ilmu akan kehilangan daya. Keduanya harus berjalan beriringan—seperti dua sayap yang membawa manusia terbang menuju peradaban yang beradab.
Inilah metodologi dakwah yang tidak hanya mengajar, tetapi menggerakkan; tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga mengguncang hati. Sebuah pendekatan yang menjadikan dakwah bukan sekadar aktivitas, melainkan kekuatan transformasi—yang perlahan namun pasti, membentuk manusia menjadi lebih sadar, lebih bijak, dan lebih dekat kepada Tuhannya.
Dakwah dari Meja Kopi ke Cahaya Hati
Di tengah riuh rendah suara cangkir yang beradu dan aroma kopi yang mengepul di sudut-sudut warung sederhana, lahirlah sebuah gerakan sunyi yang kelak menjelma menjadi gelombang perubahan. Selama hampir 16 tahun, Prof. Dr. H. Abd. Rahman Qayyum, S.H., M.A. menapaki jalan yang tak biasa—menjadikan warkop sebagai mimbar, dan para penikmat kopi sebagai jamaah yang bukan hanya haus rasa, tetapi juga dahaga makna.
Sebagai salah satu pencetus awal ceramah di warung kopi, beliau mengubah ruang santai menjadi ruang pencerahan. Di tempat-tempat seperti Warkop Mappanyukki, Warkop Tuan Guru dan Warkop Gondrong, hingga berbagai warkop lainnya, beliau merajut dakwah dengan cara yang membumi—menyusup perlahan ke dalam percakapan, menyentuh hati tanpa menggurui, dan menghidupkan nilai tanpa memaksa.
Di tengah mereka yang tengah melakukan “refreshing” jasmani, beliau hadir membawa keseimbangan ruhani. Sebuah kolaborasi tak kasat mata pun tercipta—antara dunia dan akhirat, antara kopi dan kontemplasi, antara tawa ringan dan kesadaran yang dalam. Dakwah yang beliau bangun bukan sekadar seruan, tetapi pengalaman—yang mengalir, menyentuh, dan menetap dalam jiwa.
Lebih luar biasa lagi, semua itu dilakukan tanpa ujrah, tanpa imbalan materi, tanpa pamrih duniawi. Karena bagi Prof. Dr. H. Abd. Rahman Qayyum, S.H., M.A., dakwah adalah panggilan jiwa, bukan profesi. Ia adalah pengabdian total yang tidak diukur dengan rupiah, melainkan dengan keberkahan dan perubahan yang lahir di tengah masyarakat.
Prinsip yang beliau pegang teguh menjadi napas dari seluruh gerakan ini:
“Dakwah sampai, bukan sekadar sampai dakwah.”
Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna—bahwa tujuan dakwah bukan hanya menyampaikan, tetapi memastikan pesan itu benar-benar hidup, tumbuh, dan membekas dalam hati setiap insan.
Dengan semangat yang tak pernah padam, beliau terus melangkah, terus berbagi, terus menyalakan cahaya di tempat-tempat yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tanpa lelah, tanpa jeda, dengan satu tujuan mulia:
mencerahkan manusia, tanpa pernah merasa lelah untuk mencerahkan.
Karena beliau yakin, dari satu kalimat yang tulus, dari satu ayat yang disampaikan dengan hati, bisa lahir perubahan besar yang menggetarkan zaman.
“Sampaikanlah walau satu ayat.”—dan dari sanalah, cahaya itu terus menyebar, menembus batas ruang dan waktu.
BIODATA
Nama : Prof. Dr. H. Abd. Rahman Qayyum, S.H., M.A.
Tempat / Tanggal Lahir : Poso, 20 Oktober 1968
Alamat : Jl. Topaz Raya No. 2, Makassar
Kontak
HP: 0812-4222-2770
Email: d41rqayyum@gmail.com
Pendidikan
• SD Alkhairaat, Poso
• SMP dan SMA Pesantren Alkhairaat, Palu
• UIN Alauddin Makassar
Pekerjaan / Jabatan
1. Direktur Utama Rahman Qayyum Centre, Makassar
2. Pimpinan Pesantren Darul Hadist Ibnu Qayyum, Ampana, Sulawesi Tengah
3. Dosen UIN (Universitas Islam Negeri) Makassar
4. Penasihat Spiritual Gubernur serta Wali Kota/Bupati di Sulawesi Selatan
5. Pembina Majelis Taklim Fastabiqul Khaeraat
6. Pimpinan Majelis Dzikir Nurul Khaeraat
7. Ketua Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Khaeraat, di bawah pimpinan Habib Assagaf bin Muhammad Idrus bin Salim Al-Jufri, Palu, Sulawesi Tengah
METODOLOGI DAKWAH
Materi dakwah yang disampaikan meliputi:
• Islam kontemporer (kekinian)
• Hikmah ibadah dalam dimensi kehidupan Islami
• Fiqih ibadah pada empat mazhab
• Kisah para sufi, baik tradisional maupun modern
• Perspektif Al-Qur’an dan Hadis tentang kehidupan akhirat
• Tanda-tanda kiamat dan kehidupan setelah mati
• Kisah para nabi sebagai inspirasi etos kerja
• Profesionalisme dan proporsionalitas dalam perspektif sahabat Nabi
• Manajemen waktu dalam perspektif kehidupan akhirat
• Peran IPTEK dan IMTAQ dalam menghadapi era globalisasi




