Sang Penjaga Cahaya dari Wajo, Menyalakan Peradaban di Tanah Gowa
Di sudut tenang Kabupaten Gowa, tepatnya di kawasan Pondok Pesantren dan Perkampungan Mukmin An Nadir, berdiri sosok yang bagi banyak orang bukan sekadar pemimpin, melainkan simbol keteguhan, ketekunan, dan pengabdian tanpa batas. Dialah Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M., yang akrab disapa Ustadz Samir—seorang figur yang perjalanan hidupnya mengalir bak sungai panjang, penuh liku, namun tak pernah kehilangan arah menuju tujuan mulia.
Lahir di tanah Wajo pada 16 Maret 1966, dari pasangan H. Pademmui dan Hj. Lowong Madina, Ustadz Samir tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan kerja keras sejak dini. Dari bangku SD di Bakke hingga menapaki pendidikan tinggi di STISIPOL Veteran RI Palopo dan meraih gelar Magister Manajemen di Universitas Ibn Khaldun Bogor, jejak akademiknya menjadi fondasi kokoh bagi kiprah panjangnya di dunia dakwah, sosial, dan kemasyarakatan.
Namun, perjalanan Ustadz Samir bukan sekadar tentang gelar dan jabatan. Ia adalah penjelajah makna kehidupan, yang melintasi berbagai ruang pengabdian—dari Yogyakarta, Jakarta, hingga Bogor—mengabdikan diri dalam lembaga-lembaga strategis seperti Center for Islamic Studies (CSIS), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), hingga Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Di setiap tempat, ia bukan hanya hadir, tetapi meninggalkan jejak pemikiran dan kontribusi yang membekas.
Puncak pengabdiannya terpatri ketika ia mendirikan dan memimpin Pondok Pesantren Raodhatul Tarbiyah An Nadzir di Bogor, sebelum akhirnya kembali ke Sulawesi Selatan untuk menanamkan cahaya yang sama di tanah Gowa. Sejak 2015, ia menjadi Mudir sekaligus pemimpin Jamaah An Nadzir Gowa—membina, membimbing, dan membangun komunitas dengan semangat kemandirian, spiritualitas, dan kesederhanaan yang kuat.
Tak hanya bergerak di ranah keagamaan, Ustadz Samir juga menjelma sebagai jembatan harapan di bidang kesehatan. Sebagai Kepala Cabang dan Konsultan Klinik Aquatreat Therapy Indonesia Makassar sejak 2018, ia aktif memberikan layanan dan edukasi terkait pengobatan spesialis TORCH di berbagai kota besar di Indonesia. Perannya sebagai konsultan, pembicara seminar, hingga narasumber di berbagai media menjadikannya figur yang dikenal luas lintas bidang.
Menariknya, sosok Ustadz Samir juga menjadi magnet intelektual. Komunitas yang dipimpinnya di Gowa kerap menjadi objek penelitian berbagai kalangan—mahasiswa, dosen, peneliti, hingga jurnalis, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Ia berdiri sebagai sumber pengetahuan hidup, membuka ruang dialog dan pemahaman tentang kehidupan, keyakinan, dan praktik sosial yang ia bangun bersama jamaahnya.
Dalam balutan kesederhanaan, Ustadz Samir adalah potret kepemimpinan yang tidak hanya berbicara, tetapi menghidupkan nilai. Ia adalah perpaduan antara intelektual, dai, praktisi, dan pembaharu—yang langkahnya mungkin tak selalu gemerlap, namun gema pengaruhnya terasa jauh melampaui batas ruang dan waktu.
Dari Wajo ke Gowa, dari ruang kelas ke mimbar dakwah, dari penelitian akademik hingga pelayanan kesehatan—nama Ustadz Samiruddin Pademmui terus mengalir sebagai kisah tentang dedikasi, keyakinan, dan pengabdian yang tak pernah surut.
Tembus Batas Ilmu, Dakwah, dan Kesehatan
Sosok Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M. atau yang akrab disapa Ustadz Samir kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena kiprahnya sebagai pemimpin spiritual di Gowa, tetapi juga karena rekam jejak pelatihan, sertifikasi, dan penghargaan yang membentang luas—melampaui sekat disiplin ilmu, bahkan menembus batas-batas konvensional antara dakwah, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Perjalanan intelektual dan spiritualnya tidak dibangun secara instan. Ia ditempa melalui berbagai pelatihan intensif yang sarat muatan peningkatan kualitas diri. Pada 2011, Ustadz Samir mengikuti rangkaian pelatihan Club Metafisika Bekasi mulai dari program dasar hingga tingkat penyempurnaan (S-3), yang dikenal sebagai metode pengembangan potensi manusia berbasis pendekatan psychotronica. Sebuah jalur yang jarang ditempuh, namun justru memperkaya perspektifnya dalam memahami dimensi manusia secara lebih utuh.
Jauh sebelum itu, fondasi kepemimpinannya telah dipahat melalui kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mulai dari LK-1 hingga Senior Course di Yogyakarta, serta berbagai pelatihan kepemimpinan tingkat nasional di Jakarta, menjadikannya figur yang matang secara organisasi dan tajam dalam membaca dinamika sosial. Ia bukan sekadar peserta, tetapi menjadi bagian dari generasi yang membentuk arah gerakan intelektual Islam di Indonesia.
Tak berhenti di sana, Ustadz Samir juga menapaki jalur pengobatan alternatif berbasis sunnah melalui pelatihan Al Hijamah (bekam) di Jakarta pada 2003. Dari sinilah, kiprahnya di bidang kesehatan mulai menemukan bentuk yang lebih konkret—menggabungkan pendekatan spiritual, ilmiah, dan praktik langsung di tengah masyarakat.
Deretan sertifikat dan penghargaan yang diraih pun bukan sekadar formalitas. Ia pernah terlibat sebagai panitia dalam simposium nasional bertema kesehatan serius seperti “From Atherothrombogenesis to Stroke” di Jakarta. Bahkan, ia dipercaya mewakili unsur organisasi dalam forum nasional pengembangan budaya politik demokratis yang digelar Kementerian Dalam Negeri.
Namanya juga melambung di dunia kesehatan, khususnya dalam isu infeksi TORCH. Ia menjadi narasumber dan konsultan di berbagai seminar nasional, termasuk forum yang dihadiri para penggerak PKK se-Sumatera Barat. Keahliannya menjadikan ia bukan hanya praktisi, tetapi juga rujukan dalam diskursus kesehatan berbasis masyarakat.
Di ranah akademik dan sosial, Ustadz Samir menjelma menjadi magnet intelektual. Ia kerap diundang sebagai narasumber dalam diskusi publik, dialog lintas iman, hingga kegiatan penelitian dari berbagai perguruan tinggi seperti UIN Alauddin Makassar, UIN Gorontalo, hingga Universitas Negeri Makassar. Pondok An Nadzir yang dipimpinnya bahkan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi dari berbagai penjuru.
Tak hanya berbicara di ruang seminar, ia juga membangun jembatan pemahaman antarumat melalui dialog lintas iman, mengusung pesan harmoni di tengah keberagaman. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa dakwah baginya bukan sekadar ceramah, tetapi juga aksi nyata dalam merawat kebhinekaan.
Dengan rekam jejak yang begitu panjang dan berlapis, Ustadz Samiruddin Pademmui tampil sebagai figur multidimensi—menggabungkan kekuatan spiritual, ketajaman intelektual, serta kepedulian sosial dalam satu tarikan napas pengabdian.
Di tengah arus zaman yang kian kompleks, ia berdiri sebagai simbol bahwa ilmu, iman, dan aksi dapat berpadu menjadi kekuatan besar yang tak hanya menginspirasi, tetapi juga menggerakkan perubahan.
Dari Mimbar Dakwah hingga Panggung Organisasi Nasional
Di pusaran dinamika organisasi yang tak pernah sepi dari pergulatan ide dan perjuangan, nama Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M. menjulang sebagai sosok yang tak sekadar hadir—melainkan menggerakkan, mengarahkan, dan menorehkan jejak yang sulit terhapus oleh waktu.
Sejak awal dekade 1990-an, Ustadz Samir telah menapaki jalur kepemimpinan dengan langkah yang nyaris tanpa jeda. Ia bukan hanya menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tetapi menjelma sebagai motor penggerak yang menghidupkan denyut organisasi. Dari Ketua Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) hingga memimpin langsung HMI Cabang Palopo, ia berdiri di garis depan, membentuk generasi, menyalakan semangat dakwah, dan merajut kesadaran intelektual di tengah gelombang perubahan zaman.
Langkahnya kemudian meluas ke panggung regional Indonesia Timur sebagai Ketua Bidang Pembinaan Ummat Badko HMI—sebuah posisi strategis yang menuntut ketajaman visi dan kekuatan karakter. Di titik ini, ia tidak hanya berbicara tentang umat, tetapi benar-benar mengabdikan diri untuk membina dan menguatkan fondasi sosial-keagamaan masyarakat.
Memasuki era 2000-an, orbit pengaruhnya menembus level nasional. Ia dipercaya mengemban amanah di Majelis Nasional KAHMI, mengurusi hubungan luar negeri—sebuah peran yang membuka ruang interaksi lintas bangsa, mempertemukan gagasan, dan membawa perspektif global ke dalam narasi keislaman Indonesia.
Namun, perjalanan Ustadz Samir tak berhenti pada organisasi formal. Ia membangun ekosistem perjuangan yang lebih luas melalui Majelis An Nadir, di mana selama belasan tahun ia menjadi Sekretaris Jenderal—mengelola gerakan, mengokohkan struktur, dan menjaga kesinambungan visi. Di Bogor, ia juga memimpin Ikhwanul Muhajirin, memperluas jaringan dan memperdalam pengaruh dakwah berbasis komunitas.
Kembali ke tanah Sulawesi Selatan, kiprahnya justru semakin mengakar. Ia dipercaya memimpin Jaringan Saksi Pemilu (JASILU) Sulawesi Selatan, mengawal proses demokrasi dengan semangat integritas. Tak hanya itu, ia juga aktif di Forum Diniyah Takmiliyah dan menjadi bagian penting dalam Dewan Penasihat KAHMI Gowa—menunjukkan bahwa perannya kini tidak hanya sebagai pelaku, tetapi juga sebagai penuntun arah.
Di atas semua itu, satu posisi yang menjadi poros utama pengabdiannya adalah sebagai Pimpinan Jamaah An Nadzir Gowa. Di sinilah seluruh pengalaman, ilmu, dan visi bertemu dalam satu titik: membangun komunitas yang berlandaskan nilai, kemandirian, dan spiritualitas yang kuat.
Tak kalah dahsyat, jejak intelektualnya terpatri dalam karya tulis yang membentang lintas tema—dari terjemahan buku filsafat hingga penulisan karya keislaman dan kesehatan. Buku seperti “Pakaian Wanita Sholeha”, “Tegakkan Hukum Allah di Muka Bumi”, hingga kajian tentang TORCH menjadi bukti bahwa ia bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi juga arsitek pemikiran.
Ia juga pernah memimpin redaksi buletin dakwah, menyusun kitab bersama sahabatnya, serta menulis berbagai artikel yang tersebar di media cetak dan digital selama lebih dari tiga dekade. Tulisan-tulisannya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi pemikiran yang lahir dari pergulatan panjang antara ilmu, iman, dan realitas sosial.
Ustadz Samiruddin Pademmui adalah representasi langka dari seorang organisator ulung, pemikir produktif, dan pemimpin spiritual yang mampu menyatukan banyak dunia dalam satu napas pengabdian. Ia bukan hanya bagian dari sejarah—ia adalah arus yang terus mengalir, membentuk, dan menginspirasi zaman.
Dari Dunia Aktivisme ke Perkampungan Mukmin
Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M. menjalani masa kecil hingga menamatkan pendidikan dasar dengan tinggal bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai tenaga pengajar PNS di Wajo. Lingkungan keluarga pendidik ini menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter dan kecintaannya terhadap ilmu.
Setelah lulus SD, ia melanjutkan pendidikan dengan tinggal bersama bibinya di Keppe dan bersekolah di SMP Negeri Larompong. Usai menamatkan SMP, ia kembali berpindah dan tinggal bersama neneknya di Wajo sambil melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Sengkang.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, ia hijrah ke Palopo dan tinggal bersama saudara-saudaranya sambil menempuh pendidikan tinggi. Pada masa kuliah, jiwa aktivismenya tumbuh kuat. Bersama tiga orang saudaranya, ia aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palopo. Dua orang saudaranya (almarhum) juga berprofesi sebagai guru PNS di SMK Negeri 2 Palopo.
Memasuki fase kehidupan berkeluarga, pada awal tahun 1992 ia menikah dengan seorang perempuan asal Yogyakarta bernama Siti Nuraini dan dikaruniai lima orang anak. Setahun kemudian, tepatnya 1993 hingga 1997, ia menetap di Yogyakarta. Masa ini menjadi periode penting dalam pendalaman intelektual dan spiritualnya. Selain tetap aktif di HMI, ia juga belajar kepada seorang guru lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Ustadz Jamaluddin serta aktif mengikuti berbagai kelompok kajian (halaqah).
Selama di Yogyakarta, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar dan mengikuti forum-forum seminar. Di saat yang sama, ia juga menjalankan profesi sebagai wartawan di Media Dakwah, memperkaya pengalaman intelektual dan sosialnya.
Memasuki masa Reformasi pada tahun 1997, ia kembali hijrah ke Jakarta. Dalam perjalanan pencarian spiritual yang mendalam, ia kemudian dipertemukan dengan seorang mursyid dan imam, KH. Syamsuri Abdul Madjid. Pertemuan ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Setelah itu, ia tidak lagi aktif mengikuti berbagai kajian seperti sebelumnya, karena merasa telah menemukan pembimbing yang diyakini mampu menuntunnya ke jalan yang lebih hakiki.
Bersama sang guru dan sejumlah sahabat awal, ia turut mendirikan wadah jamaah bernama Majelis Jundullah pada tahun 1999, yang kemudian bertransformasi menjadi An Nadzir pada tahun 2002 dan tetap eksis hingga saat ini.
Ia menetap di Jakarta sejak 1997 hingga 2005, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jasinga, Bogor hingga tahun 2012. Di sana, bersama Ir. H. A. Juanda, ia mendirikan Pondok Pesantren Raodhatul Tarbiyah pada tahun 2005 dan dipercaya sebagai mudir (pimpinan pesantren) hingga tahun 2012. Selain mengelola pesantren, ia juga turut membantu dalam pengembangan pengobatan spesialis TORCH serta penyusunan buku di bidang tersebut.
Pada tahun 2012, atas panggilan perjuangan, ia bergabung bersama sahabat-sahabat seperjuangan di Gowa Sulawesi Selatan. Di tempat ini, ia bersama sahabat yang berhijrah dari berbagai daerah seperti Palopo, Kolaka, Bone, Maros, Takalar hingga Jawa dan Sumatera. Di tempat merintis dan membangun Perkampungan Mukmin serta Pondok Pesantren An Nadzir yang berkembang hingga saat ini. Di kawasan tersebut telah bermukim sekitar seratus Kepala Keluarga yang kemudian menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial, serta menerima kunjungan dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, organisasi, LSM, hingga peneliti mahasiswa dan dosen.
Dalam perjalanan pribadinya, ia juga kembali membangun rumah tangga pada tahun 1999 dengan seorang perempuan bernama Nurfadilah Caniago yang memiliki latar belakang keluarga Minangkabau dan Bugis. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai enam orang anak, meskipun anak pertamanya wafat saat masih kecil dalam masa awal perintisan pesantren di Jasinga, Bogor. Istri keduanya menjadi pendamping setia dalam perjuangan hingga wafat pada tahun 2022 dan dimakamkan di Pemakaman Jamaah An Nadzir Gowa.
Selain kiprah di bidang keagamaan dan pendidikan, ia juga aktif dalam organisasi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di tingkat pusat. Dalam organisasi ini, ia dikenal sebagai sosok yang tekun dan berdedikasi, sering dipercaya sebagai notulen dalam rapat pimpinan serta mengemban peran sebagai sekretaris panitia dalam berbagai kegiatan besar seperti Halal Bihalal, Milad, Rakornas, hingga Munas KAHMI.
Perjalanan hidupnya mencerminkan konsistensi dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam berjuang, serta dedikasi dalam membangun masyarakat berbasis nilai-nilai keagamaan.
BIODATA
Nama Lengkap: Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M.
(Panggilan: Ustadz Samir)
Tempat, Tanggal Lahir:
Wajo, 16 Maret 1966
Orang Tua:
Ayah: H. Pademmui
Ibu: Hj. Lowong Madina
Pekerjaan:
• Mudir Pondok Pesantren dan Pimpinan Jamaah An Nadzir Gowa
• Kepala Cabang dan Konsultan Pengobatan Spesialis TORCH (Toxo, Rubella, CMV, Herpes) Klinik Aquatreat Therapy Indonesia Makassar (2018–sekarang)
PENDIDIKAN FORMAL:
1. SDN 149 Bakke, Kec. Sajoanging, Kab. Wajo (1977)
2. SMPN 1 Larompong, Kab. Luwu (1981)
3. SMAN 1 Sengkang, Kab. Wajo (1984)
4. S1 Administrasi Negara, STISIPOL Veteran RI Palopo (1990)
5. S2 Magister Manajemen (SDM), Universitas Ibn Khaldun Bogor (2008)
PENGALAMAN KERJA:
1. Ketua Umum Yayasan Ashabul Kahfi Palopo (1989–1994)
2. Sekretaris Eksekutif Center for Islamic Studies (CSIS) Yogyakarta (1993–1997)
3. Koresponden Majalah Media Dakwah (DDII) di Yogyakarta (1994–1997)
4. Staf Khusus Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) DDII Jakarta (1997–2000)
5. Staf Khusus Sekretaris Jenderal Pimpinan Majelis Nasional KAHMI Jakarta (2000–2005)
6. Pendiri dan Mudir Pondok Pesantren Raodhatul Tarbiyah An Nadzir, Bogor (2005–2012)
7. Konsultan, narasumber, serta pengisi siaran televisi dan seminar pengobatan spesialis TORCH (Toxo, Rubella, CMV, Herpes) Klinik Aquatreat Therapy Bogor di 25 kota besar di Indonesia (2008–2018)
8. Penanggung jawab dan Mudir Pondok Pesantren An Nadzir, Gowa (2015–sekarang)
9. Kepala Cabang Aquatreat Therapy Indonesia (AQTI) Makassar untuk wilayah pelayanan Indonesia Timur (2018–sekarang)
10. Narasumber utama dalam berbagai penelitian tentang Jamaah An Nadzir di Gowa yang melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti, LSM, organisasi, dan jurnalis dari dalam dan luar negeri (2018–sekarang)
PELATIHAN / TRAINING:
1. Pelatihan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui metode Psychotronica Program Aplikasi, Club Metafisika Bekasi (2011)
2. Pelatihan Peningkatan Kualitas SDM Program S-2 (Beladiri Canggih), Club Metafisika Bekasi (2011)
3. Pelatihan Peningkatan Kualitas SDM Program S-3 (Penyempurnaan), Club Metafisika Bekasi (2011)
4. Latihan Kader I (Basic Training) HMI (1987) dan Latihan Kader II (Intermediate Training) HMI Cabang Palopo (1988)
5. Latihan Kader Dakwah I dan II HMI Cabang Ujung Pandang (1989)
6. Senior Course HMI Cabang Yogyakarta (1990)
7. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan serta Manajemen Organisasi PB HMI, Jakarta (1990)
8. Diklat Pengobatan Alternatif Pola Sunnah Nabi Bekam (Al Hijamah), Jakarta (2003)
SERTIFIKAT & PENGHARGAAN:
1. Panitia Pelaksana Simposium “From Atherothrombogenesis to Stroke”, Pimpinan Majelis Nasional KAHMI, Jakarta (2003)
2. Perwakilan unsur organisasi PMN KAHMI pada Forum Komunikasi, Konsultasi, dan Koordinasi Pengembangan Budaya Politik Demokratis, Dirjen Kesbangpol Depdagri, Jakarta (2004)
3. Peserta seminar “TORCH Infection Update”, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik (PDS PatKlin) Cabang Surabaya (2012)
4. Narasumber dan konsultan pada praktik serta seminar pengobatan spesialis TORCH di berbagai kota besar, Klinik Aquatreat Therapy Indonesia, Bogor (2012)
5. Narasumber utama “Infeksi TORCH dan Solusinya” pada Silaturahmi Bulanan PKK Provinsi Sumatera Barat yang dihadiri penggerak PKK kabupaten/kota se-Sumatera Barat (2012)
6. Narasumber pada diskusi publik yang diselenggarakan HMI MPO Cabang Makassar (2022)
7. Narasumber Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar dalam kegiatan kunjungan mahasiswa Program Studi Agama-Agama (2022)
8. Kerja sama penelitian dan pengembangan masyarakat antara mahasiswa UIN Gorontalo dengan Jamaah An Nadzir Gowa (2023)
9. Narasumber bagi Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam Angkatan 24 UIN Alauddin Makassar (2024)
10. Narasumber UKM LKIMB Universitas Negeri Makassar dalam kegiatan wisata spiritual di Pondok An Nadzir Gowa (2019)
11. Narasumber dalam Dialog Lintas Iman untuk Kerukunan bertema “Menghilangkan Sentimen, Menciptakan Sensitivitas Agama”, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar (2025)
PENGALAMAN ORGANISASI:
1. Ketua Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Cabang Palopo (1990–1991)
2. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palopo (1991–1992)
3. Ketua Bidang Pembinaan Umat HMI Badan Koordinasi (Badko) Indonesia Timur (1992–1994)
4. Pimpinan Majelis Nasional KAHMI, Departemen Hubungan Luar Negeri (2000–2004 dan 2004–2008)
5. Sekretaris Jenderal Majelis An Nadir (2003–2018)
6. Ketua Umum Ikhwanul Muhajirin, Bogor (2007–2012)
7. Ketua Wilayah Jaringan Saksi Pemilu (JASILU) Provinsi Sulawesi Selatan (2018–2023)
8. Wakil Ketua Forum Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Gowa (2023–2027)
9. Wakil Ketua Dewan Penasihat Majelis Daerah KAHMI Kabupaten Gowa (2023–2027)
10. Pimpinan Jamaah An Nadzir Gowa (2018–sekarang)
KARYA TULIS:
1. Penerjemah (bersama tim) buku karya Syeikh Mohammad Naser, Pengetahuan & Kesucian, Penerbit Pustaka Pelajar bekerja sama dengan CSIS Yogyakarta (1994)
2. Penulis buku Pakaian Wanita Sholeha, Penerbit Pustaka Tarbiyah, Bogor (2005)
3. Penyusun buku TORCH (Toxo, Rubella, CMV, Herpes): Akibat & Solusinya, Penerbit Aquatreat Therapy Indonesia, Bogor (2006)
4. Pemimpin Redaksi Buletin Jumat “Tarbiyah”, Penerbit An Nadzir, Bogor (2008–2012)
5. Penulis buku Tegakkan Hukum Allah di Muka Bumi, Penerbit Pustaka Tarbiyah, Bogor (2010)
6. Penyusun (bersama tim) kitab Al Mutasaruddin (Kumpulan Dalil Al-Qur’an dan Hadits) Jilid I, Penerbit Majelis An Nadzir, Jakarta (2010)
7. Penulis buku Esensi Shalat (internal), Penerbit Pustaka An Nadzir, Gowa (2019)
8. Penulis berbagai artikel di media cetak (majalah, tabloid, koran) dan media online sejak 1993 hingga sekarang





