Dari Bankir ke Petani: Jejak Ibrahim Tally Membangun Pertanian Modern di Takalar
Perjalanan hidup Ibrahim Tally, S.E. menjadi bukti bahwa keberanian mengambil keputusan besar dapat mengubah arah hidup secara signifikan. Lahir di Kelurahan Takalar Lama pada 6 Juli 1978, Ibrahim merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan Syamsuddin Dg. Sewang dan Hj. Nadirah B. Kady Dg. Sunggu.
Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat, ia juga memiliki kedekatan dengan sosok nasional, Hamka B. Kady, anggota DPR RI yang telah menjabat selama tiga periode. Dalam kehidupan pribadinya, Ibrahim adalah ayah dari tiga anak: Nayla Maharani Ibrahim, Narendra Maulana Ibrahim, dan Muh. Nizar Ibrahim.
Pendidikan Ibrahim ditempuh dari SDN Centre 1 Pattallassang, kemudian SMPN 1 Takalar, dan SMAN 1 Takalar. Ia melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin pada Fakultas Ekonomi. Semasa muda, ia juga pernah menghabiskan tiga tahun di Bandung mengikuti orang tuanya yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung, pengalaman yang turut membentuk wawasan dan cara pandangnya.
Karier profesional Ibrahim sempat berada di jalur yang mapan. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank BPR Galesong pada periode 2013 hingga 2017. Namun, di tengah posisi strategis tersebut, ia justru mengambil keputusan yang tidak biasa: mengundurkan diri dari dunia perbankan dan beralih ke sektor pertanian.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sejak 2014, Ibrahim mulai mengembangkan Kebun Lengkeng Takalar, yang kini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan hortikultura di daerah tersebut. Selain itu, ia juga mengelola usaha Aneka Jambu Unggulan Takalar.
Perlahan namun pasti, kebun yang awalnya sederhana berkembang menjadi pusat edukasi pertanian. Selama lebih dari enam tahun terakhir, lokasi ini rutin menjadi tempat magang dan praktik kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa dan siswa SMK jurusan pertanian. Kehadiran kebun tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda.
Langkah Ibrahim meninggalkan dunia perbankan demi pertanian menjadi inspirasi tersendiri. Di tengah tren urbanisasi dan minat generasi muda yang cenderung menjauh dari sektor agraria, ia justru menunjukkan bahwa pertanian dapat dikelola secara modern, produktif, dan berdaya saing.
Kini, melalui usaha dan dedikasinya, Ibrahim Tally tidak hanya dikenal sebagai pengusaha kebun, tetapi juga sebagai penggerak pertanian berbasis edukasi dan komunitas di Kabupaten Takalar.
Dari Kebun ke Gerakan, Menyulut Revolusi Hijau di Sulawesi Selatan
Di tangan Ibrahim Tally, tanah bukan sekadar hamparan lahan—ia menjelma menjadi panggung perubahan. Delapan tahun silam, dari gagasan sederhana, lahirlah Komunitas Sulsel Berkebun yang kini menjelma bak gelombang hijau yang menyapu 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Hampir seribu anggota berhimpun, bergerak, dan tumbuh bersama, menjadikan komunitas ini bukan sekadar wadah, melainkan gerakan yang menghidupkan kembali semangat bertani di tengah arus modernisasi.
Di dalam komunitas Sulsel Berkebun, bergabung beragam latar belakang profesi. Mulai dari kalangan jenderal, anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, bupati, akademisi, hingga para pengusaha turut aktif dalam kegiatan yang berfokus pada pertanian dan penghijauan tersebut.
Keberagaman ini menjadikan Sulsel Berkebun bukan sekadar komunitas hobi, melainkan juga ruang kolaborasi yang mempertemukan pemangku kebijakan, praktisi, dan masyarakat umum dalam satu semangat yang sama: membangun kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.
Langkahnya tak pernah berhenti. Dari desa ke desa di Takalar hingga Jeneponto, Ibrahim hadir membawa ilmu, menyemai harapan, dan menyalakan api semangat di hati para petani dan generasi muda. Setiap pelatihan yang ia berikan bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan suntikan keyakinan bahwa tanah yang diolah dengan cinta akan melahirkan kesejahteraan. Bahkan, gaung pemikirannya menggema hingga forum besar seperti Milad Muhammadiyah PDM Makassar, menegaskan perannya sebagai inspirator di bidang pertanian.
Kebun Lengkeng Takalar yang ia bangun kini menjelma menjadi lebih dari sekadar kebun—ia adalah episentrum gerakan. Tempat ini menjadi magnet yang menarik perhatian berbagai tokoh, ruang berkumpulnya ide, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat. Di sana, diskusi tumbuh seiring pohon-pohon berbuah, dan mimpi-mimpi besar disemai di antara barisan tanaman. Derap langkahnya bahkan menarik kunjungan tokoh-tokoh penting seperti Taufan Pawe, Andi Gerhan Lantara, Ashabul Kahfi, hingga Hamka B. Kady yang kerap hadir, terlebih karena kawasan kebun juga menjadi denyut nadi aktivitas dan posko pergerakan.
Dengan visi yang tajam dan langkah yang tak tergoyahkan, Ibrahim Tally mengusung cita-cita besar: menjadikan pertanian sebagai masa depan yang gemilang. Ia percaya, di tangan generasi muda, tanah tidak hanya akan menghasilkan panen, tetapi juga melahirkan peradaban baru—di mana bertani bukan lagi pilihan terakhir, melainkan jalan utama menuju kemandirian dan kejayaan.
dan prestasi.
Kepercayaan yang kembali sebagai pengurus KONI Takalar periode 2022–2025 dan dilanjutkan di periode 2025–2029 menjadi bukti bahwa dedikasinya bukan biasa—ia adalah sosok yang dianggap mampu menjaga api itu tetap menyala.
Di ranah keumatan, langkahnya juga tak kalah kuat. Bersama Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Takalar, Ibrahim mengikat nilai-nilai spiritual dengan kemandirian ekonomi, menjadikan pertanian bukan hanya urusan perut, tetapi juga bagian dari perjuangan umat.
Lebih jauh lagi, kiprahnya merambah hingga ke medan sosial dan politik. Selama tiga periode, ia berdiri di garis depan sebagai Ketua Tim Pemenangan Takalar untuk Hamka B. Kady. Kebetulan, beliau ponakan langsung dari Hamka B Kady. Ibunda Ibrahim saudara kandung dengan Hamka B Kady.
Perannya bukan sekadar strategi, tetapi juga konsolidasi kekuatan akar rumput—merajut dukungan, menggerakkan massa, dan memastikan setiap langkah menjadi bagian dari kemenangan besar.
Di setiap ruang yang ia pijak, Ibrahim Tally tidak sekadar hadir—ia menghidupkan, menggerakkan, dan meninggalkan jejak yang sulit tergantikan.
Sulap Kebun Jadi Pusat Bibit Unggulan
Siapa sangka, di atas lahan yang hanya setengah hektar, Ibrahim Tally mampu menorehkan kisah luar biasa yang mengguncang dunia pertanian lokal. Melalui Kebun Lengkeng Takalar yang ia rintis sejak 2014, ia tidak sekadar menanam—ia membangun pusat kehidupan, tempat di mana bibit-bibit unggul lahir dan menyebar ke berbagai penjuru.
Sebagai owner Kebun Lengkeng Takalar dan pengelola Aneka Jambu Unggulan Takalar, Ibrahim menjadikan lahannya sebagai “pabrik alami” penghasil bibit berkualitas tinggi. Dari lengkeng hingga berbagai jenis tanaman buah unggulan, setiap bibit yang keluar dari kebunnya seolah membawa harapan baru bagi para petani.
Meski berdiri di atas lahan yang terbilang sederhana, gaung kebun ini justru melampaui batas geografis. Permintaan bibit terus mengalir, datang dari berbagai daerah yang ingin meniru keberhasilan yang telah ia bangun. Kebun kecil itu kini menjelma menjadi pusat distribusi tanaman produktif yang diperhitungkan.
Tidak hanya menjual, Ibrahim juga mengedukasi. Setiap bibit yang dibeli bukan sekadar tanaman, melainkan paket pengetahuan—cara menanam, merawat, hingga memanen dengan hasil maksimal. Inilah yang membuat Kebun Lengkeng Takalar berbeda: ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menumbuhkan kemampuan.
Dari setengah hektar tanah, Ibrahim Tally membuktikan bahwa luas lahan bukanlah batas. Dengan visi, ketekunan, dan keberanian, ia mengubah kebun sederhana menjadi sumber inspirasi dan harapan—tempat di mana mimpi petani mulai tumbuh, berakar, dan berbuah lebat. Pemesanan bibit bida menghubungi WhatApp : 085299666555.
BIODATA
Ibrahim Tally, S.E.
Tempat, Tanggal Lahir: Takalar Lama, 06 Juli 1978
Anak ke: 2 dari 5 bersaudara
WhatApp : 085299666555
Facebook Ibrahim Tally
Orang Tua:
• Ayah: Syamsuddin Dg. Sewang
• Ibu: Hj. Nadirah B. Kady Dg. Sunggu
Keluarga:
• Kerabat: Hamka B. Kady (Anggota DPR RI, 3 periode)
• Anak:
1. Nayla Maharani Ibrahim
2. Narendra Maulana Ibrahim
3. Muh. Nizar Ibrahim
Riwayat Pendidikan:
• SDN Centre 1 Pattallassang
• SMPN 1 Takalar
• SMAN 1 Takalar
• Universitas Hasanuddin (Fakultas Ekonomi)
Riwayat Organisasi & Pengalaman:
• Ketua Ikatan Remaja Masjid SMAN 1 Takalar (1995–1997)
• Pernah tinggal di Bandung selama 3 tahun mengikuti orang tua yang menempuh pendidikan di ITB
• Direktur Utama PT Bank BPR Galesong (2013–2017)
• Pengurus KONI Takalar (2022–2025)
• Pengurus KONI Takalar (2025–2029)
• Ketua Tim Pemenangan Takalar (Hamka B. Kady – 3 periode)
• Pengurus Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Takalar
• Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat Kelurahan Pattallassang 2021-2024
• Pengurus PSSI Takalar 2014-2019
Kontribusi & Kegiatan:
• Inisiator dan Ketua Komunitas Sulsel Berkebun (berdiri ±8 tahun lalu)
• Anggota komunitas hampir 1.000 orang yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan
• Aktif memberikan pelatihan dan materi perkebunan di berbagai desa di Takalar dan Jeneponto
• Pernah menjadi pemateri pada Milad Muhammadiyah PDM Makassar
Visi Hidup:
Mengembangkan pertanian modern berbasis komunitas serta mendorong generasi muda untuk kembali ke sektor pertanian sebagai peluang masa depan yang menjanjikan.




