Dari Keterbatasan Menuju Puncak Organisasi dan Bisnis: Sebuah Kisah Perempuan Bugis-Makassar
Sebuah Pertemuan Tak Terduga
Tahun 1991, seorang perempuan muda di Makassar membuka salon kecantikan kecil di sudut kota. Bisnis itu bukan sekadar sumber penghidupan—ia adalah jendela yang membuka pandangannya pada realitas keras kehidupan. Di kursi riasnya, bukan hanya pelanggan perempuan dari kalangan menengah yang datang, tetapi juga para waria—kaum marginal yang antusias belajar tata rias namun tak mampu membayar kursus.
Dari situ, Urfiah Syanty (lahir 30 Juni 1965) memahami satu kebenaran fundamental: keterampilan adalah kail yang bisa menarik perempuan-perempuan terpinggirkan dari lubang kemiskinan. Dan dari pemahaman itulah, sebuah perjalanan panjang dimulai—perjalanan yang akan membawanya dari pengusaha salon lokal menjadi tokoh nasional, dari aktivis lapangan menjadi Pembina Aliansi Relawan presiden, dan dari anak yatim piatu menjadi mentor bagi ribuan perempuan di Sulawesi Selatan.
Dari Nesty ke Urfiah
Kisah Urfiah tidak bisa dipahami tanpa mengenal Nesty—ibunya. Seorang janda yang ditinggal mati suami saat Urfiah berusia tujuh tahun, Nesty membiayai pendidikan putrinya dengan menjahit pakaian dan membuat kue kering. Dua keterampilan sederhana itu menjadi tulang punggung keluarga, membuktikan bahwa dalam keterbatasan, perempuan bisa menciptakan kehidupan.
“Ibu saya membiayai saya sampai kuliah dengan menjahit dan membuat kue,” kenang Urfiah, mengingat sosok yang menjadi inspirasi utamanya .
Pendidikan Urfiah berlanjut ke jenjang tinggi:
– SD Muhammadiyah VII Makassar (1971-1977)
– SMP Negeri VII Makassar (1978-1981)
– SMA UMI Makassar (1981-1984)
– S-1 Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1984-1990)
– S-2 Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (2007-2009)
Di semester III kuliah, Urfiah terpilih mewakili Indonesia dalam program pertukaran pemuda ke Jepang selama setahun—pengalaman yang memperluas wawasannya tentang dunia internasional dan membekalinya dengan jaringan global yang kelak berguna dalam karier bisnisnya .
Ujian dan Kebangkitan: Dua Kali Janda
Kehidupan tidak selalu ramah. Setelah menikah pada 1991 dan meninggalkan pekerjaan di bank, Urfiah menghadapi ujian berat: pernikahannya kandas tiga tahun kemudian. Dengan bayi yang belum genap dua tahun—Ayu Sinta Nugraha—Urfiah kembali ke rumah ibu, menghadapi situasi yang hampir identik dengan yang dialami Nesty dua dekade silam.
Masa transisi itu menguatkan tekadnya untuk mandiri. Ia mencoba segala hal: agen asuransi, penjual cengkeh, hingga berbagai aktivitas organisasi untuk memperluas jaringan. Salon Ayu yang dirintisnya akhirnya menjadi bisnis yang cukup sukses—sampai ia memutuskan menutupnya pada 2004, bukan karena gagal, tetapi karena waktunya harus dicurahkan untuk sesuatu yang lebih besar: Yayasan Cipta Diri (YCD) .
Yayasan Cipta Diri: Memberi Kail, Bukan Ikan
Berdiri pada Juli 2001, YCD adalah wujud nyata filosofi Urfiah: beri kaum miskin kail, dan mereka akan memberdayakan dirinya. Berlokasi di Jalan Rappocini, Kecamatan Tamalate, Makassar, YCD menawarkan pendidikan nonformal dan keterampilan gratis bagi:
– Anak muda putus sekolah
– Penganggur
– Waria
– Mantan pekerja seks komersial
– Ibu rumah tangga dari keluarga buruh
Kelas yang ditawarkan beragam: menjahit, menyulam, desain busana, menari, olah vokal, hingga tata rias. Awalnya dibiayai dari dana pribadi, pada tahun ketiga YCD mendapat respons positif dari Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan dan Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa .
Yang membuat YCD berbeda adalah pendekatan holistiknya. Kelas sulam pita, misalnya, tidak hanya mengajarkan teknik menjahit, tetapi juga etika—bagaimana perempuan harus memberdayakan diri, berkomunikasi, membangun jaringan, dan menghargai diri sendiri. “Saya ingin mereka bisa menghargai diri mereka, dengan begitu menghargai lingkungan sekitar mereka,” tegas Urfiah .
Salah satu bukti keberhasilan YCD adalah Akmal Khapoor, waria yang belajar tata rias dan menyanyi di YCD, kemudian membentuk grup vokal dan tak lagi kembali ke jalanan. Kisah seperti ini menginspirasi Urfiah untuk terus mengembangkan YCD, yang hingga kini tetap menjadi lembaga nonprofit dan telah berusia lebih dari dua dekade .
Makassar Sampulo: Membawa Sutra ke Pentas Dunia
Tahun 2011, Urfiah mendirikan Makassar Sampulo—wadah bagi perajin, desainer, dan pengusaha sutra Sulawesi Selatan. Ini adalah pertama kalinya ada asosiasi para pegiat sutra yang secara aktif mempromosikan sutra alam ke pasar internasional.
Dengan Makassar Sampulo, Urfiah berharap dunia menengok Indonesia sebagai salah satu produsen sutra alam. Lebih dari itu, ia ingin memperbaiki kehidupan perempuan di desa-desa Sulawesi Selatan yang menggantungkan hidup pada usaha tenun sutra—pekerjaan yang digeluti setiap hari namun seringkali tidak menghasilkan pemasukan yang layak .
Melalui Makassar Sampulo, Urfiah tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga memperjuangkan keadilan ekonomi bagi perempuan-perempuan penenun yang telah lama menjadi tulang punggung industri kreatif lokal namun terpinggirkan dalam pembagian keuntungan.
Panggung Politik dan Organisasi: IWAPI hingga Arenas Prabowo
Ketua IWAPI Sulsel: Memperjuangkan Pengusaha Perempuan
Pada 2015, Urfiah terpilih sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Sulawesi Selatan versi Elza Syarif—posisi yang membuatnya menjadi salah satu tokoh bisnis perempuan paling berpengaruh di wilayah timur Indonesia .
Sebagai Ketua IWAPI Sulsel, Urfiah tidak hanya mengurus anggota, tetapi juga menjadi fasilitator investasi asing. Pada Maret 2013, ia menjadi perwakilan IWAPI Sulsel yang memfasilitasi pertemuan antara Pemerintah Polandia—yang diwakili Konselor Utama Romuald Morawski—dengan pemerintah Kota Makassar untuk menjajaki investasi di bidang pertambangan dan pariwisata .
“Dengan adanya keseriusan pemerintah Polandia yang akan berinvestasi di Makassar akan sangat menguntungkan pemerintah kota dan pemerintah provinsi,” ujarnya saat itu, menunjukkan kapasitasnya dalam diplomasi ekonomi .
Pengurus Kadin Indonesia
Karier organisasinya berlanjut ke tingkat nasional saat ia menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada masa kepemimpinan Suryo Bambang Sulastyo. Posisi ini membawanya ke jaringan bisnis elite Indonesia dan memberinya platform untuk memperjuangkan kepentingan UMKM perempuan di tingkat kebijakan .
Pembina Arenas Prabowo 08: Di Barisan Depan Politik
Pada 2024, Urfiah menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan bangsa dengan bergabung dalam Arenas Prabowo 08—Aliansi Relawan Nasional yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024. Ia menjabat sebagai Dewan Pembina Arenas 08 dan Pembina TKN Golf Segmen Profesi .
Dalam perannya, Urfiah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis di Jakarta Pusat (Januari 2024), yang dihadiri bersama Sekjen Arenas 08 Kray Intan Dewi Rumbinang dan pengurus DPP . Ini menunjukkan bahwa baginya, politik bukan sekadar kontestasi kekuasaan, tetapi wadah untuk terus melayani masyarakat.
Filsafat dan Warisan: Adab Timur di Era Modern
Pada Agustus 2025, dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia, Urfiah menyampaikan refleksi mendalam tentang peran perempuan. Ia menegaskan bahwa perjuangan perempuan dari masa ke masa—dari Cut Nyak Dien yang turun ke medan perang, hingga RA Kartini dan Dewi Sartika yang memperjuangkan pendidikan—telah membuahkan hasil nyata .
“Di pemerintahan, banyak perempuan menduduki jabatan strategis. Bahkan ada kuota 30% keterwakilan perempuan di legislatif. Perempuan juga bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin, hingga ke luar negeri,” ujarnya .
Namun yang paling menarik adalah penekanannya pada adab Timur: “Setinggi apa pun karir perempuan, ia tetap harus menghormati suami sebagai kepala rumah tangga. Kemerdekaan perempuan bukan berarti kebebasan tanpa batas” .
Pernyataan ini mencerminkan keseimbangan yang ia bangun antara modernitas dan tradisi—sebuah filsafat yang menjadikannya teladan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang ingin sukses tanpa meninggalkan akar budaya.
Pengakuan Nasional: 100 Wanita Inspiratif Indonesia
Prestasi dan dedikasi Urfiah tidak luput dari perhatian nasional. Namanya tercatat dalam daftar 100 Wanita Inspiratif Indonesia versi Majalah Kartini—bersama tokoh-tokoh besar seperti R. Mien Uno. Pengakuan ini bukan hanya penghargaan pribadi, tetapi juga pengakuan terhadap peran perempuan dari daerah dalam membangun bangsa .
Epilog: Memberi Daya Hidup
Dari para perempuan yang ditemuinya di YCD, Urfiah belajar satu hal fundamental: dalam kekurangan dan keterbatasan, manusia justru menemukan daya hidup. Ia sendiri adalah buktinya—dari anak yatim piatu yang dibesarkan oleh ibu penjahit, menjadi pengusaha, aktivis, dan tokoh organisasi nasional.
Hari ini, YCD terus beroperasi, Makassar Sampulo terus mempromosikan sutra Sulsel ke dunia, dan ribuan perempuan telah terlatih keterampilan yang mengubah hidup mereka. Urfiah Syanty mungkin tidak lagi duduk di kursi rias salon kecilnya, tetapi ia terus merias kehidupan—memberi warna pada kanvas sosial Sulawesi Selatan dengan jejak perjuangan yang tak terhapuskan.
“Berikan kail, bukan ikan. Karena dengan kail, mereka akan belajar memancing untuk dirinya sendiri, dan suatu hari, mereka akan mengajari orang lain memancing.”





