Azhar Arsyad, Pemegang Kendali PKB Sulsel

Sang Aktivis NGO yang Menyemai Harapan dan Melahirkan Politisi Muda Berintegritas

Pendahuluan: Dari Sunyi ke Panggung Sejarah

Di sebuah sudut Indonesia Timur, di tanah Sulawesi Selatan yang kaya akan tradisi dan pergulatan sejarah, politik sering kali tampil sebagai panggung yang riuh, penuh janji, penuh perebutan, dan tak jarang kehilangan arah.

 

Namun di tengah kebisingan itu, lahir satu suara yang berbeda. Suara yang tidak berangkat dari ambisi, tetapi dari keprihatinan. Suara yang tidak dibentuk oleh warisan kekuasaan, melainkan oleh pengalaman panjang mendampingi luka-luka rakyat.

 

Itulah Azhar Arsyad. Namanya mungkin tidak selalu menghiasi baliho besar atau layar televisi nasional. Tetapi jejaknya tertanam dalam ingatan banyak orang. Di desa-desa yang pernah ia kunjungi, di ruang advokasi yang pernah ia penuhi, di wajah-wajah sederhana yang pernah ia dampingi.

 

Ia datang bukan sebagai politisi yang ingin dikenal, tetapi sebagai manusia yang pernah melihat ketidakadilan terlalu dekat dan memilih untuk bersuara membawa misi suci yang kuat.

 

Kini, di bawah panji Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Selatan, ia berdiri di garis depan. Bukan untuk mengumpulkan kekuasaan, tetapi untuk mengubah arah. Untuk menanam sesuatu yang lebih dalam, yakni harapan.

 

*Berjuang di Akar Rumput : Jalan Panjang Seorang Aktivis*

 

Jauh sebelum ruang-ruang berpendingin udara dan meja rapat politik menjadi bagian dari kesehariannya, Azhar Arsyad telah lebih dulu akrab dengan panasnya jalanan dan getirnya kenyataan.

 

Ia menyaksikan petani yang kehilangan tanahnya tanpa pernah benar-benar mengerti mengapa. Ia duduk bersama nelayan yang lautnya semakin sempit oleh kepentingan industri. Ia mendengar cerita masyarakat adat yang haknya terhapus oleh tinta kebijakan. Setiap perjumpaan itu bukan sekadar cerita, tetapi luka yang ia simpan dalam kesadaran.

 

Sebagai aktivis NGO, ia tidak hanya berteriak dalam demonstrasi. Ia menulis laporan, mengumpulkan data, menyusun strategi, dan berdialog dengan banyak pihak. Ia percaya bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan kemarahan, ia membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan ketekunan.

 

Hari-hari Azhar adalah perjalanan panjang, dari satu kampung ke kampung lain, dari satu kasus ke kasus berikutnya. Ia belajar bahwa kemiskinan bukan sekadar angka, melainkan wajah. Ketidakadilan bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang menyesakkan dada.

Dan di sanalah ia ditempa, menjadi keras dalam prinsip, tetapi lembut dalam rasa.

 

*Pergulatan Batin: Memilih Masuk ke Sistem*

 

Namun, ada satu titik dalam hidupnya ketika ia mulai bertanya: sampai kapan perjuangan ini hanya berada di luar pagar kekuasaan?

Ia menyadari bahwa advokasi, sekuat apa pun, sering kali terbentur pada tembok kebijakan. Bahwa suara rakyat, meski lantang, bisa saja tenggelam jika tidak memiliki ruang di dalam sistem.

Keputusan untuk masuk ke dunia politik bukanlah pilihan mudah. Ia tahu risiko yang akan dihadapi. Stigma, kecurigaan, bahkan kemungkinan kehilangan idealisme yang selama ini ia jaga.

Tetapi ia memilih melangkah.

Baginya, politik bukan tempat untuk menyerah pada keadaan, tetapi medan baru untuk memperjuangkan perubahan dengan cara yang lebih luas. Jika dulu ia mengetuk pintu kekuasaan dari luar, kini ia memilih masuk dan membuka pintu itu dari dalam.

Dan PKB menjadi rumah yang ia pilih.

Di sana, ia menemukan nilai yang sejalan. Tentang kemanusiaan, tentang keberagaman, dan tentang keberpihakan pada yang lemah. Nilai-nilai yang mengingatkannya bahwa politik tidak harus kehilangan nurani.

 

*Di Dalam Sistem: Menggerakkan, Bukan Sekadar Menyuarakan*

 

Masuk ke dalam partai tidak membuatnya berubah menjadi sosok yang lain. Ia tetap Azhar yang sama, yang percaya bahwa kerja nyata lebih penting dari sekadar retorika.

Dengan ketekunan dan integritasnya, ia perlahan mendapat kepercayaan. Ia bukan hanya bagian dari struktur, tetapi menjadi penggerak. Sosok yang tidak hanya hadir dalam rapat, tetapi juga dalam proses membangun.

 

Ia mulai merancang sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

 

Ia melihat satu masalah mendasar, bahwa politik di Sulawesi Selatan membutuhkan darah baru. Bukan sekadar wajah muda, tetapi cara berpikir baru. Bukan sekadar semangat, tetapi juga integritas.

Dan dari sanalah lahir gagasan besarnya, yakni melahirkan generasi politisi muda yang berbeda.

Menyemai Masa Depan: Politik adalah Sekolah Kehidupan

Bagi Azhar, melahirkan politisi bukanlah pekerjaan instan. Ia percaya bahwa pemimpin tidak lahir dalam semalam, tetapi dibentuk melalui proses panjang.

Ia menggagas sekolah politik, sebuah ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan cara menang, tetapi juga cara menjaga diri dari kekuasaan.

 

Di sana, para pemuda diajak memahami bahwa politik adalah tanggung jawab. Bahwa setiap keputusan akan berdampak pada banyak kehidupan. Bahwa jabatan bukanlah hadiah, tetapi amanah.

 

Ia membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak peduli dari mana latar belakang mereka, dari mahasiswa, aktivis, profesional muda. Semua diterima, selama memiliki komitmen untuk mengabdi dan berbuat nyata.

 

Ia menolak satu hal yang selama ini menjadi penyakit : “politik uang”.

 

“Jika politik hanya bisa dimasuki oleh mereka yang punya uang, maka rakyat kecil akan selamanya kehilangan wakilnya,” begitu kira-kira keyakinan yang Azhar pegang.

 

Para kader muda itu ia dampingi. Ia ajak berdialog. Ia bimbing ketika mereka ragu. Ia tegur ketika mereka mulai goyah.

Karena baginya, menjaga integritas jauh lebih sulit daripada meraihnya.

 

Tunas Harapan: Ketika Perubahan Mulai Terlihat

 

Waktu berjalan. Perlahan, hasilnya mulai tampak.

 

Anak-anak muda yang dulu hanya duduk di ruang diskusi, kini berdiri di mimbar parlemen. Mereka berbicara bukan dengan janji kosong, tetapi dengan gagasan. Mereka hadir bukan sebagai simbol, tetapi sebagai pekerja.

 

Masyarakat mulai melihat sesuatu yang berbeda.

 

Pemilih muda yang dulu apatis, kini mulai percaya bahwa politik masih bisa diperbaiki. Masih ada ruang bagi kejujuran dan kerja nyata. Di dalam partai, perubahan itu terasa.

 

Budaya lama yang sarat transaksi mulai bergeser. Diskusi menjadi lebih hidup. Gagasan menjadi lebih dihargai.

Semua itu bukan terjadi dalam semalam. Tetapi dari kerja sunyi yang terus dilakukan, tanpa banyak sorotan.

 

Di tengah semua itu, Azhar tetap berdiri pada satu pijakan yang tidak pernah ia lepaskan, yakni integritas.

 

Ia tahu bahwa godaan dalam politik tidak pernah kecil, setiap langkah selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit.

Tetapi ia memilih jalan yang sunyi, jalan yang mungkin tidak selalu populer, tetapi benar.

Ia menolak politik uang, meski tahu itu bisa mempercepat kemenangan. Ia mendorong transparansi, meski itu berarti membuka banyak hal yang selama ini disembunyikan.

Ia mengajarkan bahwa menjadi politisi bukan soal seberapa tinggi jabatan, tetapi seberapa kuat menjaga nilai.

Mungkin, di situlah letak kekuatannya. Kemampuannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri, di tengah dunia yang sering kali menuntut kompromi.

 

*Penutup: Sebuah Undangan untuk Masa Depan*

 

Kisah Azhar Arsyad bukan sekadar tentang perseorangan. Ia adalah cerita tentang harapan, tentang kemungkinan bahwa politik bisa kembali menjadi ruang pengabdian.

 

Ia telah membuktikan bahwa idealisme tidak harus mati, bahwa dari jalanan, seseorang bisa melangkah ke dalam sistem tanpa kehilangan jati diri.

 

Kini, ia tidak hanya berjalan sendiri. Ia mengajak, merangkul, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.

 

Azhar mengamini, negeri ini membutuhkan lebih banyak orang yang berani. Menanti lebih banyak orang yang peduli. Mengharapkan lebih banyak orang yang mau belajar dan berjuang.

Sebab masa depan tidak akan berubah jika hanya disaksikan.

Ia harus direbut dan dikendalikan, dan itu membutuhkan perjuangan.

 

Mungkin, di suatu hari nanti, ketika kita melihat politik yang lebih bersih dan manusiawi. Kita akan ingat bahwa perubahan itu pernah dimulai oleh seseorang yang memilih untuk terus mengabdi dan melayani.

 

Seseorang bernama Azhar Arsyad.

 

“Politik adalah seni melayani. Dan pelayan terbaik adalah mereka yang memulai dengan cinta pada rakyat, bukan kekuasaan.”

 

 

Biodata

Nama : H. Azhar Arsyad, S.H., M.H

Tempat, Tgl Lahir : Makassar, 1 September 1967

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Status : Kawin

Alamat Sekarang : Griya Prima Tonasa Blok D4 No.7, Pai, Bringkanaya, Kota Makassar

Telephone : 08124281286

Email : azhararsyad360@gmail.com

 

PENDIDIKAN

1974 – 1980 Sekolah Dasar Negeri No. 38 Parepare

1980 – 1983 Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kendari

1983 – 1986 Madrasyah Aliyah Negeri Makassar

1986 – 1992 Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia Makassar

2019 – 2022 Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum UMI

2024 – Sekarang Program Doktoral Ilmu Hukum UMI

pENGALAMAN KERJA

PT. UMITOHA Grafika / Manajer Pemasaran 1994 – 1997

LKPMP / Staff 1997 – 1998

LKPMP / Kepala Devisi Advokasi 1998 – 2000

LKPMP / Direktur 2000 – 2003

FIK ORNOP Sulsel / Bamus 2000 – 2003

JARI Celebes Raya / Badan Konsultasi 2002 – 2004

Assosiasi LSM Se-SulSel / Wakil Ketua Dewan Etik 2003 – 2006

FIK ORNOP Sulsel / Koordiantor 2003 – 2006

JARI / Majelis Anggota Pusat 2004 – 2007

DBE3-USAID / Provincial coordinator  2005 – 2011

Cowater International Inc. / Project Officer Sulawesi Selatan SIPS-CIDA KPK 2012 – 2013

DPRD Prov. Sulawesi Selatan / Anggota 2019 – 2024

DPRD Prov. Sulawesi Selatan / Ketua Fraksi PKB 2019 – 2024

DPRD Prov. Sulawesi Selatan / Ketua BAPEMPERDA 2019 – 2024

DPRD Prov. Sulawesi Selatan / Wakil Ketua II Komisi D 2019 – 2024

 

pENGALAMAN ORGANISASI

PMII Kodya Makassar / Ketua Cabang 1993 – 1994

IMDI Kodya Makassar / Ketua umum 1994 – 1995

Ikatan Mahasiswa DDI / Pucuk Pimpinan 1995 – 1997

DPW PKB Sulsel / Deklarator sekaligus wakil sekretaris pengurus wilayah 1998 – 2003

KNPI Sulsel / Wakil Sekretaris 1998 – 2001

PB-DDI / Wakil Sekjen 1999 – 2003

KNPI Sulsel / Wakil Ketua 2001 – 2004

PB-DDI / Wakil Sekjen 2003 – 2007

GP Ansor Sulawesi Selatan / Ketua PW 2008 – 2012

PB-DDI / Sekjen 2009 – 2014

DPW PKB Sulawesi Selatan / Ketua 2013 – 2024

FOKSI Sulawesi Selatan / Ketua 2019 – 2026

IKA UMI Kab. Pinrang / Ketua 2022 – 2026

Kerukunan Keluarga Pinrang (KKP) Sulawesi Selatan / Ketua 2022 – 2027

IKA UMI Koordinatorat Sulawesi Selatan / Ketua 2024 – 2029

DPW PKB Sulawesi Selatan / Ketua 2024 – Sekarang

 

PELATIHAN/SEMINAR/ SIMPOSIUM/LOKAKARYA

Pelatihan Community Organiser (CO) yang dilaksanakan oleh BLPM dengan Bina Desa dan YIS Solo tahun 1992 di Makassar

Pelatihan advokasi lingkungan pada tahun 1994 , Walhi Sulsel, Makassar

Agribussiness Management Course, Kerjasama University of Technology Perth, Western Australia, di Australia Barat, Januari-Maret, 1995

Pelatihan perencanaan Model ZOPP, 1997, Makassar

Workshop Desentralisasi Program YAPPIKA, Kerjasama FIK LSM Sulsel, tahun 1998, Makassar

Strategi Planning FIK ORNOP Sulsel, 2000, Makassar

Strategi Planning The Asia Foundation, tahun 2001, Bandung

Pelatihan Fasilitator DISCUSS, PACT Indonesia-FIK ORNOP Sulsel, 2001

Discussion For The preparation of “ Socialization and Orientation Seminar JICA Technical Cooperation Project, PKPM Bappenas, Jakarta, 2003

PCM Workshop for consensus Building on JICA Technical Cooperation With Civil Society In Indonesia, PKPM BAPPENAS/JICA Indonesia, 2003

Seminar dalam rangka sosialisasi dan Orientasi Proyek Kerjasama Teknik JICA untuk, “Community Empowerment Program with civil society in Indonesia”, Jakarta, 2003

Trainining of Trainer (ToT) Pemilu Tingkat Nasional, CETRO, 2004

Sharing Workshop on PKPM, kerjasama PKPM,Bappenas, JICA Indonesia,Jakarta, 2004

Pertemuan Konsolidasi Tim Pokja PKM Pusat untuk penyiapan pelaksanaan Program PKPM, kerjasama PKPM,Bappenas, JICA Indonesia,Jakarta, 2004

Kick Of Seminar For Community Empowerment Program With Civil Society in Indonesia, kerjasama PKPM,Bappenas, JICA Indonesia,Jakarta, 2004

Pertemuan Nasional Organisasi Masyarakat Sipil, Hotel Millenium 2004

Lokakarya Persiapan Indeks Masyarakat Sipil, YAPPIKA, Hotel Sahid Cikarang 2004

Lokakarya Perumusan Metode dan Alur Working Group- Action Planning Proses, Hotel Pitagiri 2004

 

pENGALAMAN ILMIAH

Ketua Tim Penyusun Buku Ke-DDI-an di tengah Isu-isu Kontemporer

Ketua Tim Studi KNPI Sulsel Kasus konflik Horisontal di Luwu 2002

 

pENGALAMAN NARASUMBER

Lokakarya Reposisi Peran Santri Kearah Penguatan Civil Society

Lokakarya Islam Dan Pluralisme Menghargai Perbedaan Untuk Kemaslahatan

Lokakarya Upaya Membangun Kemandirian Pesantren ke arah Penguatan Civil Society, 2002

Simposium Nasional Peranan ORNOP Dalam Pemberdayaan Masyarakat, 2002

Workshop “bagaimana Menggalang Dana Publik (Fund Society) Kehati-Ailo 2003

Lokakarya bagaimana mendorong Transparansi LSM, LP3S-AILO, 2003

Lokakarya Perencanaan Dan Penganggaran Strategi Penanggulangan Kemiskinan Di Daerah “ Pola Mana Yang Paling Tepat”, Kerjasama JICA INDONESIA Dengan FIK ORNOP Sulsel, Makassar, 2004

Diskusi Terbatas KNPI dengan judul Kepemimpinan Nasional, tgl 25 Mei 2004, Hotel Celebes

Bagaimana Memilih yang Benar pada Voters Education tentang Pilpres, kerjasama LIPKEM dan UNDP dan K2LSS di Watang Soppeng, tgl 6 Juni 2004

Bagaimana Memilih yang Benar pada Voters Education tentang Pilpres, kerjasama YLKI Sulsel dan UNDP dan K2LSS di Pinrang, tgl 12 Juni 2004

 

 

 

pENGALAMAN FASILITATOR

Fasilitator Penyusunan Metodologi Pengajaran Mata Kuliah Ke-DDI-an, oleh LKPMP dengan The Asia Foundation (TAF).

Fasilitator Refleksi dan Evaluasi Project kerjasama LKPMP dengan The Asia Foundation (TAF).

Fasilitator Pelatihan Advokasi kerjasama FIK-ORNOP Sulsel dengan Pact Indonesia.

Fasilitator DISCUSS (Diskusi Komunitas) pada 7 Kabupaten di Sulsel, tahun 2001-2002

Fasilitator Lokakarya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Berbasis Multistakeholders, 2002

Fasilitator Lokakarya Penguatan LSM; Menuju LSM yang sehat, akuntabel dan transparan, AILO (assosiasi LSM sulsel) 2003

Fasilitator Lokakarya LSM “bagaimana membangun Jaringan yang lebih kuat, transparan dan akuntabel di Kabupaten Pinrang, 2003

Penanggungjawab Fasilitator Lokakarya Strategi Penanggulangan Kemiskinan Tingkat Propinsi Sulsel, 2004

Fasilitator Lokakarya EPW Se-Indonesia Timur (environmental Parliament Watch) 2004

Fasilitator Simposium Nasional tentang peranan NGO dalam Pengembangan Masyarakat melalui Kemitraan/kerjasama Multistakeholders”, JICA Indonesia, BAPPENAS, pada tanggal 17 – 18 Maret 2004, di Sahid Hotel, Makassar, Sulawesi Selatan

Fasilitator (ToT) Pemantau Pemilu Di Sulsel, April 2004

Fasilitator Lokakarya Perencanaan Strategis Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) Kabupaten Majene, 2004

Penanggungjawab Fasilitator OCA (Organizational Capacity Assessment) bagi 31 Ornop Anggota FIK, 2003-

2004

Fasiliatator Indeks Masyarakat Sipil (IMS) di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto 2004

Fasiliatator Working Group-Action Planning Proses di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto 2004

Pos terkait

http://linksulsel.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-09-at-17.01.041-1.jpeg

Tinggalkan Balasan