Jabat Direksi PD Parkir Makassar, Terapkan Sistem Parkir Digital
Di bawah komando Saharuddin Said, langit pengelolaan parkir di Kota Makassar seakan terbelah—membuka jalan bagi sebuah revolusi yang tak terbendung. Penunjukannya sebagai Direksi Perumda Parkir Makassar bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan dentuman awal dari era baru: era ketika setiap rupiah parkir tak lagi menguap tanpa jejak, tetapi tercatat presisi layaknya detak waktu.
Di jantung Kecamatan Wajo, sistem parkir digital kini menjelma menjadi denyut nadi baru. Dari yang sebelumnya serba tunai dan penuh celah, kini berubah drastis menjadi ekosistem non-tunai yang transparan, tegas, dan nyaris tanpa kompromi. Ini bukan sekadar inovasi—ini adalah pergeseran peradaban kecil di ruang-ruang parkir kota.
Saharuddin Said berdiri di garis depan perubahan ini, membawa visi yang nyaris tak memberi ruang bagi kebocoran. Baginya, digitalisasi bukan pilihan, melainkan keniscayaan zaman. “Kita tidak lagi bicara kemungkinan, ini adalah keharusan,” seolah menjadi gema dari setiap kebijakan yang ia dorong. Sistem baru ini memaku tarif pada kepastian—tak ada lagi angka yang berubah-ubah sesuka hati, tak ada lagi celah bagi praktik-praktik abu-abu.
Dulu, uang receh berpindah tangan tanpa jejak, kini setiap transaksi meninggalkan jejak digital yang tak terbantahkan. Pengawasan menjadi tajam, transparansi menjelma nyata, dan kepercayaan publik perlahan dibangun dari nol hingga menjulang tinggi.
Namun, revolusi besar tak pernah lahir tanpa riak. Tantangan datang dari kebiasaan lama yang enggan mati, dari para juru parkir dengan latar belakang beragam yang harus berlari mengejar perubahan. Tapi Saharuddin tak bergeming. Dengan kesabaran yang nyaris tak berbatas, ia memilih membina, bukan memaksa—meyakini bahwa waktu akan menjadi sekutu terbaik perubahan.
Menariknya, langkah ini juga dibumbui strategi tak biasa: hadiah sebagai pemantik. Sebuah pendekatan yang mungkin sederhana, namun efektif menggoyahkan keraguan masyarakat untuk beralih ke sistem digital. Dari sekadar coba-coba, perlahan menjadi kebiasaan.
Di lapangan, suara dukungan menggema. Para juru parkir seperti Amin dan Daeng Beta merasakan langsung dampaknya—pekerjaan lebih tertata, praktik liar teredam, dan rasa aman kian menguat. Parkir tak lagi identik dengan ketidakpastian, melainkan menjadi layanan yang berkelas dan terukur.
Jika langkah ini terus melaju tanpa hambatan berarti, bukan mustahil seluruh sudut Kota Makassar akan tersentuh digitalisasi parkir. Sebuah mimpi yang dulu terdengar ambisius, kini berdiri di ambang kenyataan.
Saharuddin Said sendiri bukan sosok baru dalam pusaran dinamika kota. Dua periode di DPRD Makassar telah mengasah insting politik dan kepemimpinannya. Dari Golkar hingga PAN, dari organisasi kepemudaan hingga panggung Pilkada 2024, langkahnya selalu diwarnai keberanian mengambil sikap—termasuk saat memilih mendukung pasangan Appi-Aliyah di tengah arus partai yang berbeda arah.
Kini, di kursi direksi Perumda Parkir Makassar, ia seolah menemukan panggung baru—bukan sekadar mengelola parkir, tetapi menata ulang sistem, membangun kepercayaan, dan menulis ulang masa depan layanan publik di kota ini.
Dan jika revolusi ini terus menyala, maka suatu hari nanti, orang akan mengenang: di bawah kepemimpinan Saharuddin Said, parkir di Makassar bukan lagi soal kendaraan berhenti—melainkan tentang bagaimana sebuah kota belajar bergerak maju tanpa kebocoran sedikit pun.
Mengecap Pendidikan Pesantren
Di balik sosok Saharuddin Said yang kini berdiri tegak di panggung kepemimpinan, ada jejak panjang yang ditempa bukan sekadar oleh waktu, tetapi oleh bara pendidikan yang menyala di lingkungan Pesantren IMMIM Makassar—sebuah kawah candradimuka yang melahirkan manusia-manusia tangguh dengan jiwa baja dan akhlak yang menjulang.
Bagi Saharuddin, IMMIM bukan hanya tempat belajar. Ia adalah semesta kecil yang membentuk arah hidup, menanamkan nilai, dan mengukir karakter hingga ke relung terdalam. Dari lorong-lorong asrama hingga ruang-ruang belajar yang sarat disiplin, lahirlah generasi yang bukan sekadar paham agama, tetapi siap mengguncang masa depan bangsa.
Dengan nada penuh keyakinan, ia menggambarkan IMMIM sebagai mesin pencetak pemimpin—tempat di mana anak-anak bangsa digembleng sejak usia dini, dari bangku SD hingga SMA, dalam satu tarikan napas pendidikan yang utuh. Di sana, ketakwaan bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan. Disiplin bukan sekadar aturan, melainkan nafas keseharian.
“IMMIM harus terus menjadi rahim bagi lahirnya pejuang-pejuang bangsa,” seolah menjadi gema dari harapannya—sebuah keyakinan bahwa dari pesantren inilah akan lahir sosok-sosok yang kelak mengisi panggung sejarah.
Di IMMIM, para santri tidak hanya diasah otaknya, tetapi juga ditempa mentalnya. Dari lapangan olahraga yang membakar semangat, hingga ruang muhadharah yang menggetarkan nyali untuk berbicara di depan publik, setiap sudutnya adalah laboratorium kehidupan. Bahasa asing dikuasai, keberanian dipupuk, dan kepercayaan diri dibangun setahap demi setahap—hingga seorang santri siap berdiri menghadapi dunia tanpa gentar.
Saharuddin adalah salah satu bukti hidup dari proses itu. Dari santri, ia menjelma menjadi anggota DPRD, hingga kini dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur di Perumda Parkir Makassar. Baginya, semua pencapaian itu bukan kebetulan—melainkan buah dari pendidikan yang ditanamkan dengan kesungguhan di IMMIM.
Dengan penuh hormat, ia menundukkan kepala pada para kiai, ustaz, dan ustazah—para penjaga cahaya yang tak pernah lelah menyalakan lentera ilmu. Dalam pandangannya, setiap ilmu yang ditanamkan adalah amal jariyah yang terus mengalir, menjelma dalam keberhasilan para alumni yang kini tersebar di berbagai penjuru profesi: dokter, tentara, pilot, profesional, hingga anggota DPR RI.
Ia juga menepis segala keraguan yang mungkin berembus di luar. Baginya, IMMIM adalah benteng yang kokoh—tempat yang aman, bersih dari hal-hal negatif, dan sarat nilai kebaikan yang bahkan sulit ditemukan di tempat lain.
Lebih dari itu, ia menggambarkan IMMIM sebagai “rumah besar”—sebuah ikatan yang melampaui waktu dan angkatan. Sekali menjadi bagian dari IMMIM, selamanya terikat dalam satu rasa, satu identitas, satu semangat yang tak terpisahkan.
Dan jika waktu terus bergulir, bukan hal yang berlebihan jika dikatakan: selama Pesantren IMMIM Makassar tetap berdiri tegak, selama itu pula ia akan terus melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga siap menyalakan obor perubahan—menerangi bangsa dengan ilmu, akhlak, dan keberanian yang tak tergoyahkan.
BIODATA
Nama Lengkap : H. Sahruddin Said, S.E
Tempat. Tanggal Lahir: Makassar, 16 Juni 1988
Alamat : Jl. Andi Djemma Lr.10 (Perum) Nusa Landak Mas A/5
Agama : Islam
Instagram : ajidsaid
Facebook : Ajid Said
PENDIDIKAN
SDN Barrang Caddi
SMP IMMIM Putra Makassar
SMA Negeri 02 Makassar
STIE LPI Makassar (Strata 1)
Pascasarjana UMI Makassar
PENGALAMAN KERJA
Anggota DPRD Kota Makassar, Periode 2014-2019
Anggota DPRD Makassar, Periode 2019-2024
PENGALAMAN ORGANISASI
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
SAPMA Pemuda Pancasila Makassar
Pemuda Demokrat Indonesia
Garda Bela Negara Nasional (GBNN)
Himpunan Mahasiswa Islam
Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)
BP3 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
Mantan Pengurus Partai Golongan Karya
Pengurus Partai Amanat Nasional





