Perjuangkan Jalan Tol Baru: Sulsel Tak Boleh Terjebak Selamanya
Di tengah laju pertumbuhan yang kian cepat, Sulawesi Selatan justru menghadapi ironi besar: jalan-jalan yang semakin sesak dan nyaris kehilangan daya tampung. Kemacetan tidak lagi sekadar gangguan sesaat, tetapi telah menjelma menjadi krisis harian yang menggerus waktu, energi, dan produktivitas masyarakat.
Dalam situasi yang kian mendesak ini, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras, tampil sebagai salah satu figur yang paling vokal mendorong percepatan pembangunan jalan tol baru di Sulawesi Selatan.
Dengan panjang jalan tol yang baru sekitar 25 kilometer—angka yang bahkan tidak mencapai satu persen dari total nasional—Sulsel tampak tertinggal jauh dalam peta pembangunan infrastruktur Indonesia. Keterbatasan ini menjadi pemicu utama kemacetan kronis yang kini terjadi hampir setiap hari, tidak lagi terbatas pada momen arus mudik atau libur panjang.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh stagnasi pada ruas strategis Makassar–Parepare yang selama hampir 24 tahun tidak mengalami peningkatan signifikan. Jalur yang seharusnya menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah itu kini berubah menjadi titik simpul kemacetan yang memperlambat pergerakan kendaraan dari Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga kawasan utara lainnya. Penanganan yang selama ini hanya berupa pemeliharaan rutin dinilai tidak mampu menjawab lonjakan volume kendaraan yang terus meningkat.
Dorongan untuk melakukan rekonstruksi total pun menjadi semakin kuat. Pendekatan preservasi dianggap tidak lagi relevan dalam menghadapi tekanan lalu lintas yang semakin besar. Dibutuhkan langkah besar berupa pembangunan ulang infrastruktur jalan yang mampu menampung beban kendaraan secara optimal dan berkelanjutan.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pendukung seperti rest area turut menjadi sorotan. Minimnya sarana tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan jalan tol belum sepenuhnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna secara menyeluruh. Untuk itu, keterlibatan sektor swasta dinilai menjadi kunci percepatan pembangunan, terutama dengan membuka ruang investasi yang lebih luas dan memangkas proses perizinan yang selama ini dianggap berbelit.
Sebagai politisi yang telah lama bergelut dalam perumusan kebijakan strategis, Andi Iwan dikenal konsisten memperjuangkan pembangunan infrastruktur sebagai fondasi utama pertumbuhan daerah. Fokusnya tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada periode sebelumnya, berbagai proyek strategis seperti jalan tol, rel kereta api, hingga pengembangan kawasan industri menjadi bagian dari agenda yang terus didorong. Di masa jabatan saat ini, komitmen tersebut kembali diperkuat dengan penekanan pada peningkatan aksesibilitas dan konektivitas antarwilayah, yang diyakini mampu membuka peluang investasi lebih besar di Sulawesi Selatan.
Pembangunan infrastruktur dipandang sebagai kunci pemerataan pembangunan sekaligus instrumen penting dalam pengentasan kemiskinan. Ketika konektivitas terbuka, distribusi barang dan jasa menjadi lebih lancar, biaya logistik menurun, dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih cepat.
Di tengah tekanan kemacetan yang semakin terasa dan kebutuhan mobilitas yang terus meningkat, pembangunan jalan tol baru bukan lagi sekadar rencana jangka panjang. Ia telah berubah menjadi kebutuhan mendesak yang menentukan arah masa depan Sulawesi Selatan—apakah terus tertahan dalam kepadatan, atau melesat menuju konektivitas tanpa batas.
Jabat Ketua Kadin Sulsel: Dari Arena Pertarungan ke Puncak Kamar Dagang
Di panggung besar dunia usaha dan organisasi, nama Andi Iwan Darmawan Aras tidak lahir dari kemudahan. Ia ditempa dari benturan, diuji oleh rivalitas, dan ditempa dalam panasnya pertarungan yang tak memberi ruang bagi keraguan. Dalam setiap langkahnya, AIA tampil bukan sekadar sebagai peserta—melainkan petarung yang selalu maju dengan tenaga penuh dan perhitungan tajam.
Latar belakang keluarganya justru tidak sepenuhnya mengarah ke dunia yang ia geluti. Sang ayah, Andi Darmawan Aras, dikenal sebagai aparatur negara yang pernah menjabat sebagai Asisten I Gubernur Sulawesi Selatan. Namun AIA memilih jalur berbeda—menyusuri jalan terjal sebagai pengusaha sekaligus politisi, dua dunia yang menuntut ketangguhan mental dan keberanian mengambil risiko.
Rekam jejaknya di dunia organisasi menjadi bukti bahwa ia bukan sosok yang setengah langkah. Dalam perebutan kursi Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sulawesi Selatan periode 2020–2025, ia menghadapi tekanan yang nyaris mustahil. Dari 13 kandidat yang mengerucut menjadi tiga nama besar, AIA berdiri di antara dua figur kuat dengan jejaring elite: HM Natsir Kalla, adik dari Jusuf Kalla, serta Taufiq Fachruddin yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan daerah.
Situasi itu ibarat berdiri di antara dua gunung raksasa yang siap menelan siapa saja yang lengah.
Namun AIA tidak mundur. Dengan strategi senyap namun menghunjam, ia justru menembus tekanan itu hingga akhirnya keluar sebagai pemenang melalui aklamasi—sebuah klimaks yang menegaskan dominasinya di panggung organisasi pengusaha.
Kemenangan tersebut bukanlah kebetulan, melainkan akumulasi dari perjalanan panjang yang penuh luka dan pelajaran. Jauh sebelum itu, ia pernah merasakan kerasnya kekalahan saat bertarung di Musda HIPMI Sulsel. Pertarungan sengit yang bahkan diwarnai kericuhan fisik dan pengamanan ketat aparat menjadi salah satu episode paling panas dalam perjalanan organisasinya. Di tengah kondisi yang nyaris kacau, AIA tetap berdiri tegak, memilih bertarung hingga akhir meski harus menerima kekalahan pahit.
Namun justru dari kekalahan itulah lahir tekad yang lebih besar. Ia tidak berhenti, tidak surut, dan tidak kehilangan arah. Setahun berselang, ia melesat ke panggung politik nasional, merebut kursi DPR RI dengan puluhan ribu suara, lalu mengokohkan posisinya di periode berikutnya.
Dari sana, pengaruhnya terus membesar—hingga dipercaya memimpin Partai Gerindra Sulawesi Selatan dan menjadi motor penggerak politik di wilayahnya.
Di balik semua itu, AIA tetap berakar sebagai pengusaha. Ia membangun usahanya dari nol, merintis sebagai kontraktor yang mengerjakan proyek dermaga hingga jalan di berbagai daerah. Ada jejak masa kecil yang seolah tak pernah lepas dari perjalanan hidupnya—kenangan menyeberangi sungai dengan perahu, yang tanpa disadari membentuk kedekatannya dengan dunia konstruksi dan infrastruktur.
Langkahnya mengikuti jejak para tokoh besar seperti Jusuf Kalla hingga Sandiaga Uno yang menjadikan Kadin sebagai batu loncatan menuju panggung yang lebih luas. Namun AIA tidak sekadar mengikuti jejak—ia membangun jalannya sendiri, dengan ritme dan gaya bertarung yang khas.
Jabatan Ketua Kadin Sulsel bukan hanya simbol kemenangan, melainkan puncak dari perjalanan panjang penuh tekanan, konflik, dan keteguhan. Dari riak sungai masa kecil hingga gelombang besar dunia usaha dan politik, AIA menjelma menjadi figur yang tidak hanya bertahan—tetapi menaklukkan setiap arena yang dimasukinya.
Biodata
Nama: H. Andi Iwan Darmawan Aras, S.E., M.Si
Tempat, Tanggal Lahir: Ujung Pandang, 26 Juni 1976
Jabatan: Anggota DPR RI / Wakil Ketua Komisi V DPR RI
Agama: Islam
Riwayat Pendidikan
1982: TK Dharma Wanita
1987: SD Negeri IKIP Ujung Pandang
1990: SMP Islam Athirah Ujung Pandang
1993: SMA Negeri 2 Ujung Pandang
1998: S1 Universitas Hasanuddin
2019: S2 Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Perjalanan Karier
Anggota DPR RI (2014–2019, 2019–2024)
Wakil Ketua Komisi V DPR RI (2020–sekarang)
Anggota Badan Anggaran DPR RI (2014–2016)
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI (2016–2019)
Anggota Badan Penganggaran MPR RI (2016–2019)
Bendahara Fraksi Partai Gerindra MPR RI (2016–2019)
Ketua Kelompok Fraksi Partai Gerindra Komisi V (2016–2019, 2019–2020)
Anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR RI (2018–2019)
Anggota Panitia Khusus RUU Daerah Kepulauan (2018)
Anggota Panitia Kerja RUU Sumber Daya Air (2018)
Anggota Badan Legislasi DPR RI (2019–2020)
Anggota Panitia Kerja RUU Jalan (2021)
Anggota Panitia Kerja RUU Jasa Konstruksi (2016)
Riwayat Organisasi
Dewan Pembina BPD HIPMI Sulawesi Selatan (2006–2009)
Wakil Ketua BPD GAPENSI Sulawesi Selatan (2007–2012)
Wakil Ketua OKK DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan (2008–2010)
Sekretaris Bidang Perusahaan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Sulawesi Selatan (2008–2012)
Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Infrastruktur KADIN (2010–2012)
Ketua Bidang Pertahanan DPP Partai Gerindra (2015–2020)
Bendahara Umum DPN HKTI (2015–2020)
Manajer Kejuaraan Dunia Pencak Silat Indonesia (2016)
Anggota Dewan Pertimbangan BPP GAPENSI (2016–2021)
Dewan Penasehat DPP Pemuda Tani Indonesia (2016–2021)
Ketua Bidang Infrastruktur, Perhubungan, dan Properti BPP HIPMI (2017–2019)
Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan (2019–2024)
Dewan Pembina BPP HIPMI (2020–2023)
Bendahara Umum DPN HKTI (2020–2025)
Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan (2020–2025)
Wakil Ketua PP IKA Universitas Hasanuddin (2022–2026)
Dewan Kehormatan BPP HIPMI (2023–2026)





