• Peter F Gontha Bercerita Soal Garuda Hingga Keterlibatan Chairul Tanjung
    Oleh | Jumat, 24 Januari 2020 | 07:02 WITA

    LINKSULSEL.COM – Mantan Dutabesar Indonesia untuk Polandia, Peter F Gontha menceritakan perjalanan Garuda Indonesia yang belakangan diterpa beragam masalah.

    Saat ini Peter telah ditunjuk sebagai Komisaris Garuda Indonesia dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPLSLB), Rabu (22/1).

    Penunjukan ini menjadi kali kedua setelah pada 2011-2014, jabatan tersebut juga ia emban. Dilansir dari facebooknya, Peter menceritakan pelepasan saham yang dilakukan Garuda Indonesia medio 2011 melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan harga penawaran awal sebesar Rp 750-Rp 1.100 per lembar saham di mana harga tersebut dinilai pasar terlalu mahal.

  • Namun harga tersebut disanggupi Muhammad Nazaruddin, yang saat itu menjadi Bendahara Partai Demokrat. Lambat laun, Nazaruddin disebut tidak muncul saat pembayaran lantaran sadar bahwa harga saham tersebut jauh di atas kisaran harga nilai perusahaan.

    Di sinilah ia menceritakan peran Chairul Tanjung (CT), pengusaha yang kini didapuk sebagai Wakil Komisaris Utama Garuda. “Untuk tidak hilang muka, pemerintah meminta kelompok perusahaan pimpinan Chairul Tanjung datang menjadi dewa penyelamat. Akhirnya CT setuju membeli saham Garuda sebanyak 29% dengan harga total sekitar 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,5 triliun dengan harga saham rata-rata Rp 600-Rp 650,” tulisnya, Rabu (23/1).

    “CT setuju namun oleh ‘orang tertentu’ dianggap CT langsung mengantongi keuntungan ratusan miliar rupiah. Padahal harga saham terus merosot ke kisaran Rp 500 (sekarang bahkan hanya Rp 460),” sambungnya. Dengan jumlah saham yang signifikan, lanjutnya, kelompok usaha CT hanya mendapat hak kedudukan dua komisaris, yaitu Chris Kanter dan dirinya. Peter menyebut, seharusnya Chairul Tanjung mendapat hak perwakilan dua komisaris dan dua direksi.

    Bahkan, pada era Rini Soemarno, jatah Komisaris dari pihak CT dikurangi yang tadinya dua komisaris hanya mendapat jatah satu komisaris saja. Dengan hasil kinerja yang buruk itu, Peter menilai wajar jika selama ini ia mengeluhkan kinerja para direksi.

    Oleh karenanya, saat ini ia akan melakukan pengawasan lebih ketat agar manajemen Garuda yang baru tak bisa main-main.

    “Hanya Tuhan YMK yang mengetahui akhir cerita Garuda. Tantangan dan pekerjaan yang luar biasa sulitnya, semoga bisa kita perbaiki. Apakah saya bisa, sementara umur saya juga tidak muda lagi,” tutupnya. (Rm)
    Editor : Heny