• DPPPA Makassar Pastikan Beri Trauma Healing untuk EAB
    Oleh | Senin, 28 Oktober 2019 | 12:28 WITA

    MAKASSAR, LINKSULSEL.COM -Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar akan memberikan pendampingan dan trauma healing kepada EAB (2), balita yang ditemukan bersama jenazah ibunya yang sudah mulai membusuk di salah satu kamar kos di Jalan Bontonompo, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Senin (28/10/2019) lalu.

    Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Kota Makassar, Tenri A Palallo mengatakan, diminta atau tidak oleh pihak keluarga, sudah menjadi kewajiban pihaknya untuk memberikan trauma healing kepada EAB

    Terserah bapaknya, kalau bapaknya menganggap perlu kami mendampingi. Tapi soal pengobatan dan trauma healingnya, diminta atau tidak sama bapaknya, tetap kami akan berikan,” kata Tenri, Selasa (29/10/2019) kemarin.

    Selain itu, lanjut Tenri, pihaknya juga akan berdiskusi dengan pihak keluarga EAB terkait pola atau model trauma healing yang akan diberikan.

    “Saya juga berpikir harus ada wawancara mendalam kepada si ayah anak ini (EAB), untuk mengetahui masalah yang dihadapi dan pengaruhnya kepada EAB,” ujarnya

    Sebelumnya dikabarkan, Warga Jalan Bontonompo, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, digegerkan penemuan jenazah seorang wanita yang kondisinya sudah membusuk dan diketahui bernama Marni (39), di salah satu kamar kost di daerah tersebut, Senin (28/10/2019) petang.

    Saat ditemukan oleh warga, di samping jenazah itu ada seorang anak balita (EAB), yang duduk setia menemani jenazah sang ibu. Menurut hasil pemeriksaan pihak kepolisian, Marni diperkirakan telah meninggal sekitar tiga hari yang lalu.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun, penemuan jenazah Marni tersebut bermula saat warga mencium aroma bau menyengat di sekitaran daerah tersebut. Setelah dicari lebih lanjut, ditemukan sumber bau itu berasal dari kamar kos Marni.

    Kepala Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar, Kombes Pol dr. Farid Amansyah mengatakan, pihaknya akan melakukan beberapa penanganan dan perawatan untuk memastikan EAB dalam kondisi baik-baik saja.

    “Saat ini kita lakukan proses perawatan di RS Bhayangkara dengan dua tujuan. Pertama. pemulihan fisik. Kedua, pemulihan psikis,” kata Farid.

    “Kita tahu, manusia yang mayatnya membusuk itu tentu adalah sumber penyakit, karena ada bakteri-bakteri pembusukan yang bisa saja tertular kepada anak ini. Oleh karena itu, anak ini kita observasi untuk memastikan memang tidak ada gangguan fisik di hari-hari kedepan,” tambahnya.

    Menurut Farid, dari hasil pemerikasaan pihak RS Bhayangkara, sejauh ini belum ditemukan secara fisik maupun psikis adanya penyakit yang menular di tubuh EAB. Namun ditakutkan setelah berjalannya waktu, ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada EAB tersebut.

    “Tetapi kan kalau penyakit itu ada masa inkubasinya, yaitu masa dimana kuman masuk sampai manifes menjadi gejala klinis. Sampai sekarang ini alhamdulillah tidak ada,” ujarnya.

    Sementara untuk panganan secara psikis, lanjut Farid, hal tersebut perlu dilakukan untuk mengobati trauma yang dirasakan oleh EAB selama bersama jenazah ibunya.

    “Mudah-mudahan anak ini bisa normal kembali seperti anak-anak lainnya. Caranya gimana? Kita lakukan pendekatan-pendekatan atau terapi-terapi yang melibatkan keluarga,” jelasnya.

    “Kita juga sangat berterima kasih kepada warga, yang sejak awal penemuan anak itu, langsung dibersihkan dan dimandikan. Itu penagan pertama yang sangat bagus untuk anak ini,” pungkasnya.

    Editor : Rusdi